Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 April 2025 | 18.50 WIB

7 Tanda Anda Masih Terikat dengan Hubungan yang Rapuh dalam Hidup Anda dan Saatnya untuk Melepaskannya Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang terikat dalam hubungan yang rapuh - Image

Ilustrasi seseorang yang terikat dalam hubungan yang rapuh

JawaPos.com - Tidak semua hubungan dalam hidup kita bersifat mendukung dan menumbuhkan.

Ada kalanya kita tetap terikat pada hubungan yang sebenarnya sudah rapuh, tidak sehat, atau bahkan menyakitkan, hanya karena kita takut melepaskan.

Dalam psikologi, keterikatan semacam ini bisa berasal dari berbagai hal mulai dari rasa takut akan kesepian, trauma masa lalu, hingga harapan palsu bahwa segalanya akan berubah.

Jika Anda merasa hidup Anda stagnan, atau ada seseorang dalam hidup Anda yang justru menguras energi daripada memberdayakan Anda, mungkin sudah waktunya untuk bertanya: “Apakah saya masih bertahan dalam hubungan yang lemah?”

Dilansir dari Small Biz Technology pada Kamis (17/4), terdapat 7 tanda utama bahwa Anda mungkin masih terikat pada hubungan yang tidak lagi sehat menurut psikologi dan mengapa saatnya Anda mempertimbangkan untuk melepaskannya.

1. Anda Lebih Sering Merasa Lelah Emosional daripada Bahagia

Salah satu indikator paling jelas dari hubungan yang lemah adalah beban emosional yang konsisten.

Dalam hubungan yang sehat, Anda seharusnya merasa didukung, dihargai, dan aman secara emosional.

Tapi jika Anda terus-menerus merasa cemas, frustrasi, atau lelah setiap kali berinteraksi dengan orang tersebut, itu adalah tanda bahwa hubungan itu tidak memberikan energi positif lagi.

Menurut psikolog klinis, kelelahan emosional dalam hubungan adalah hasil dari ketidakseimbangan—di mana Anda memberi lebih banyak daripada yang Anda terima.

Ini bukan soal siapa yang lebih banyak memberi secara material, tetapi soal dukungan emosional yang seharusnya saling menguatkan.

2. Anda Terus Membuat Alasan untuk Mereka

Apakah Anda sering membela atau mencari pembenaran untuk perilaku mereka yang tidak menyenangkan?

Misalnya: “Dia sebenarnya baik, cuma lagi stres,” atau “Dia nggak bermaksud menyakiti, aku aja yang terlalu sensitif.”

Psikologi menyebut ini sebagai cognitive dissonance—konflik internal antara kenyataan dan harapan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore