Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Maret 2025 | 01.05 WIB

Orang yang Masa Kecilnya Tak Punya Tempat Bersandar Biasanya Memiliki 7 Masalah Ini saat Mereka Dewasa

Ilustrasi orang yang sedang menghadapi masalah.(Pexels.com/AlmustaphaAdam) - Image

Ilustrasi orang yang sedang menghadapi masalah.(Pexels.com/AlmustaphaAdam)

JawaPos.com – Tak semua punya masa kecil ideal. Ada yang hidup tanpa seseorang yang bisa diandalkan sejak kecil, tak ada tempat bersandar. Hal ini bisa mengubah cara seseorang melihat dunia dan menghadapi kehidupan.

Pasalnya, mereka terbiasa menanggung beban sendiri, bahkan saat terasa terlalu berat. Kebiasaan ini terus terbawa hingga dewasa, sering kali tanpa disadari oleh orang lain. Jika anda pernah merasa membawa beban emosional yang sulit dijelaskan, anda tidak sendirian. 

Berikut adalah tujuh tantangan yang sering dihadapi oleh mereka yang tumbuh tanpa punya tempat untuk bersandar, dikutip dari DMNews, Kamis (6/3).

  1. Sulit meminta bantuan

Sejak kecil, mereka belajar bahwa tidak ada orang yang akan datang menolong, jadi mereka terbiasa menyelesaikan segalanya sendiri. 

Saat dewasa, meminta bantuan terasa asing atau bahkan salah. Ada rasa takut dianggap lemah atau menjadi beban bagi orang lain, sehingga mereka lebih memilih untuk menanggung segalanya sendiri.

Namun, kenyataannya, tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian. Belajar untuk percaya dan menerima bantuan adalah langkah besar dalam perjalanan menuju kesembuhan.

  1. Merasa harus selalu membuktikan diri untuk dicintai

Bagi mereka, cinta bukan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Sejak kecil, mereka merasa harus "bernilai" atau "berguna" agar diterima dan disayangi. 

Pola pikir ini terus terbawa hingga dewasa, membuat mereka selalu berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, meskipun itu mengorbankan diri sendiri.

Padahal, cinta sejati tidak membutuhkan pembuktian. Seseorang berhak dicintai tanpa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain.

  1. Sulit memercayai orang lain

Mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil atau penuh kekecewaan akan lebih waspada terhadap orang lain. Kepercayaan bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, tetapi harus benar-benar diuji dan dibuktikan.

Hal ini bukan hanya masalah emosional, tetapi juga biologis. Pengalaman masa kecil memengaruhi cara otak memproses kepercayaan dan hubungan.

Akibatnya, mereka cenderung menjaga jarak dan sulit membuka diri, bukan karena ingin, tetapi karena takut disakiti lagi.

  1. Sering meragukan diri sendiri

Tanpa dukungan atau validasi di masa kecil, seseorang bisa tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik. Mereka sulit menerima pujian, merasa kesuksesan hanyalah kebetulan, dan selalu ada suara kecil di dalam kepala yang mengatakan, "Kamu belum cukup baik."

Butuh waktu dan usaha untuk menyadari bahwa harga diri tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita di masa lalu. Kita sudah berharga sejak awal.

  1. Merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri

Mengatakan "tidak" terasa seperti kesalahan. Mereka terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri, bahkan ketika mereka sudah kelelahan secara fisik dan mental.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore