
seseorang yang sering mengucapkan maaf. (Freepik/EyeEm)
JawaPos.com - Apakah kamu termasuk orang yang sering berkata “maaf” bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak salah?
Misalnya, meminta maaf saat hendak bertanya, meminta maaf ketika orang lain menabrakmu, atau sekadar berkata “maaf” saat mengungkapkan pendapat? Jika iya, kamu tidak sendirian.
Dalam psikologi, kebiasaan berlebihan meminta maaf (over-apologizing) sering kali bukan sekadar kebiasaan sopan santun, melainkan cerminan dari pola asuh dan pengalaman masa kecil yang membentuk pola pikir tertentu.
Seseorang yang terus merasa harus minta maaf, bahkan untuk hal yang bukan kesalahannya, sering kali membawa "luka tak terlihat" dari masa kecil yang berhubungan dengan rasa takut ditolak, ingin selalu diterima, atau menghindari konflik.
Dilansir dari Geediting pada MInggu (3/8), terdapat 8 pengalaman masa kecil yang sering dialami oleh orang-orang yang tumbuh menjadi pribadi “mudah minta maaf” secara berlebihan, menurut psikologi.
1. Tumbuh di Lingkungan Keluarga yang Kritis atau Perfeksionis
Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua atau keluarga yang sangat kritis cenderung merasa bahwa apapun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
Setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan, bahkan kadang hal-hal yang bukan kesalahan mereka tetap dianggap salah.
Akibatnya, mereka belajar untuk selalu bersikap “defensif” dengan meminta maaf sebelum disalahkan.
Psikologi menyebut ini sebagai “anticipatory guilt”, yaitu rasa bersalah yang muncul sebelum seseorang benar-benar melakukan kesalahan, sebagai mekanisme perlindungan dari kritik.
2. Dibiasakan Mengalah dan Memendam Emosi
Anak-anak yang sering diajarkan untuk “mengalah demi kebaikan bersama” tanpa diajarkan cara mengekspresikan emosi dengan sehat, akan terbiasa memendam rasa tidak nyaman.
Mereka tumbuh dengan kepercayaan bahwa untuk menjaga hubungan baik, mereka harus menekan perasaan sendiri dan meminta maaf walau tidak salah, demi menghindari konflik.
3. Orang Tua yang Tidak Stabil Emosinya (Moody atau Temperamental)
Memiliki orang tua yang emosinya mudah meledak-ledak atau tidak stabil membuat anak merasa harus selalu berhati-hati dalam bersikap.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
