seseorang yang ingin terlihat kaya
JawaPos.com - Dalam masyarakat modern yang serba visual dan konsumtif, pencitraan diri sering kali menjadi bagian penting dari kehidupan sosial.
Tidak sedikit orang yang merasa terdorong untuk tampil "lebih" dari kenyataan ekonominya demi mendapatkan pengakuan, rasa dihargai, atau bahkan sekadar diterima dalam lingkup sosial tertentu.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (31/7), menurut psikologi, berkaitan erat dengan konsep impression management (pengelolaan kesan) dan social comparison (perbandingan sosial).
Khususnya pada kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, dorongan untuk terlihat kaya sering kali tidak disadari muncul dalam bentuk perilaku-perilaku halus.
Berikut adalah 7 perilaku tersebut menurut sudut pandang psikologi:
1. Membeli Barang Mewah yang Tidak Sesuai Kemampuan Finansial (Conspicuous Consumption)
Salah satu indikator paling umum adalah membeli barang bermerek atau mewah hanya untuk "tampil".
Ini sering disebut sebagai conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan bukan untuk fungsi utama barang tersebut, melainkan demi status sosial.
Psikologi di baliknya:
Perilaku ini muncul sebagai cara untuk meningkatkan self-esteem melalui pengakuan eksternal.
Mereka merasa bahwa kepemilikan barang mewah akan menaikkan status mereka di mata orang lain, meskipun harus berutang atau menyisihkan kebutuhan pokok.
Mereka sering memamerkan kehidupan seolah-olah "sempurna" di media sosial: makan di restoran mahal, staycation di hotel, atau mengenakan pakaian branded.
Namun sering kali ini adalah hasil "dibuat-buat" dan tidak mencerminkan realitas harian.
Psikologi di baliknya:
Konsep self-presentation atau persona digital berperan besar di sini.
Banyak orang ingin memproyeksikan citra ideal yang mereka dambakan, bukan kenyataan hidup mereka.
Ini menjadi bentuk pelarian dari kondisi nyata yang membuat mereka merasa kurang.
3. Enggan Mengakui Kesulitan Ekonomi
Mereka akan berusaha menutupi kenyataan finansialnya.
Bahkan dalam situasi sulit, mereka lebih memilih diam atau membesar-besarkan kondisi keuangan mereka agar tidak dianggap "gagal" oleh orang lain.
Psikologi di baliknya:
Fenomena ini erat dengan konsep defensive self-esteem.
Individu merasa harga dirinya terancam jika harus mengakui kenyataan pahit, sehingga lebih memilih membangun ilusi kontrol dan kesejahteraan.
4. Bergaul Hanya dengan Kalangan “Atas” atau yang Tampak Sukses
Ada kecenderungan untuk membatasi lingkaran sosial hanya kepada mereka yang terlihat lebih sukses atau mapan.
Tujuannya bukan karena kedekatan emosional, tapi karena ingin terasosiasi dengan status mereka.
Psikologi di baliknya:
Fenomena ini berkaitan dengan associative status seeking, yakni upaya meningkatkan citra diri melalui asosiasi sosial.
Semakin dekat seseorang dengan "kelas atas", semakin besar ilusi bahwa ia bagian dari kelompok tersebut.
5. Sering Membicarakan Uang dan Kekayaan Secara Berlebihan
Mereka kerap menyisipkan topik tentang uang, properti, atau bisnis dalam percakapan, bahkan jika konteksnya tidak relevan.
Tujuannya adalah untuk menanamkan persepsi bahwa mereka sukses secara ekonomi.
Psikologi di baliknya:
Ini disebut status signaling, yaitu upaya untuk menunjukkan sinyal-sinyal status tinggi melalui komunikasi verbal.
Meskipun tidak benar-benar memiliki apa yang dibicarakan, menyebutkannya saja memberi sensasi diterima sebagai "orang kaya".
6. Menghindari Aktivitas yang Dianggap “Murahan” atau Rendah Kelas
Misalnya enggan naik transportasi umum, belanja di pasar tradisional, atau mengenakan barang lokal.
Padahal sebenarnya kondisi keuangan mereka belum cukup stabil untuk menghindari opsi-opsi ekonomis itu.
Psikologi di baliknya:
Ini berkaitan dengan class anxiety — kecemasan karena merasa tidak cukup “kelas atas”.
Untuk menghindari pengingat atas status sosial mereka, individu akan menolak aktivitas yang dapat memperkuat identitas sebagai kelas menengah ke bawah.
7. Membangun Identitas Lewat Barang, Bukan Diri Sendiri
Orang-orang ini cenderung menggantungkan identitas mereka pada kepemilikan benda: mobil, gadget terbaru, atau tas bermerek.
Mereka merasa “tidak berharga” jika tidak memiliki penanda status tersebut.
Psikologi di baliknya:
Fenomena ini dikenal sebagai materialistic identity, yaitu ketika nilai diri diukur dari apa yang dimiliki, bukan siapa dirinya.
Ini dapat menyebabkan ketergantungan emosional pada barang-barang, yang berujung pada perilaku konsumtif kronis.
Penutup: Pencitraan Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Jati Diri
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk tampil baik dan hidup sejahtera.
Namun, ketika pencitraan menjadi beban psikologis dan finansial, maka kita mulai kehilangan kejujuran terhadap diri sendiri.
Psikologi mengajarkan pentingnya self-acceptance—menerima kondisi saat ini tanpa menutup kemungkinan untuk bertumbuh.
Alih-alih berfokus pada bagaimana terlihat kaya, akan lebih sehat secara mental dan finansial jika fokus pada bagaimana menjadi pribadi yang berkembang, produktif, dan autentik.
Karena pada akhirnya, pencitraan hanyalah bayangan; yang abadi adalah nilai diri yang dibangun dari dalam.