Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 02.39 WIB

Kebiasaan Bilang "Lima Menit Lagi" padahal Masih Jauh: Ini 4 Sifat Mereka Kata Psikologi

Ilustrasi cara mendeteksi manipulator dalam 5 menit pertemuan pertama agar tak terjebak dalam niat buruk mereka sejak awal. (Freepik)

JawaPos.com - Pernah mendapat pesan dari seseorang yang bilang “akan tiba dalam lima menit”, tapi kenyataannya baru muncul 15 atau bahkan 25 menit kemudian? Kebiasaan ini bukan sekadar soal telat, melainkan mencerminkan cara berpikir yang cukup unik dan sering kali membuat orang lain geleng-geleng kepala.

Contohnya, ada orang yang mengirim pesan sambil rebahan di sofa, padahal baru saja mengunggah story sedang santai makan sereal. Beberapa menit kemudian, dia datang terburu-buru, rambut masih basah, dengan alasan lalu lintas macet. Padahal, rute yang ditempuh hanya beberapa blok dan jarang ada hambatan.

Bagi sebagian orang, “lima menit lagi” bukanlah pernyataan faktual, tapi lebih menyerupai niat baik yang diucapkan dengan penuh optimisme. Kalimat seperti “sudah parkir” mungkin artinya baru mau keluar rumah, sedangkan “masuk” bisa berarti masih cari tempat parkir. Mereka seolah hidup dalam versi waktu sendiri yang optimistis, penuh harapan, dan tidak selalu akurat.

Berikut empat sifat umum yang sering melekat pada orang-orang yang punya kebiasaan seperti ini, dikutip dari Geediting, Selasa (22/7).

1. Terlalu Percaya Diri dengan Waktu yang Tidak Masuk Akal

Orang-orang ini benar-benar percaya mereka bisa menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Ketika mengatakan akan tiba dalam lima menit, mereka membayangkan bisa mandi, berpakaian, menyetir sejauh 15 menit, mencari parkir, lalu berjalan kaki tiga blok seolah semua dalam durasi sempit itu.

Bukan karena mereka berbohong, tetapi karena mereka hidup berdasarkan skenario terbaik: semua lampu lalu lintas hijau, parkiran langsung tersedia, dan lift langsung terbuka.

Sayangnya, harapan ini jarang sesuai kenyataan. Ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana, mereka tetap terkejut, seolah itu kejadian langka padahal hampir selalu begitu.

2. Hidup di "Saat Ini" yang Tidak Pernah Berakhir

Bagi sebagian orang, waktu terasa seperti serangkaian momen sekarang yang tiada habisnya. Masa depan tidak dipikirkan sebagai kenyataan yang akan datang, melainkan sebagai “sekarang versi lain” yang belum terjadi.

Ketika mengirim pesan “lima menit lagi”, pikiran mereka sudah melompat ke masa ketika sudah tiba, meskipun tubuh mereka masih duduk di depan cermin. Mereka merasa sudah melangkah keluar karena secara mental sudah siap. Akibatnya, proses nyata seperti berpindah tempat atau menempuh perjalanan jadi tidak terasa penting.

Orang dengan pola pikir seperti ini juga sering terkejut dengan tenggat waktu, ulang tahun yang datang setiap tahun, atau parkir yang habis masa berlakunya meskipun semuanya sebenarnya bisa diprediksi.

3. Selalu Berusaha Mengoptimalkan Waktu

Sebelum benar-benar pergi, orang-orang ini biasanya mencoba memaksimalkan setiap menit yang ada. Mereka berpikir, “Kalau sudah telat, sekalian mandi. Kalau mandi, sekalian keramas. Kalau keramas, sekalian tata rambut. Dan kalau rambut sudah ditata...”

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore