
Tanda perempuan tidak bahagia dalam hidup menurut psikologi. (Freepik/ jcomp)
JawaPos.com - Terkadang, kita semua bersembunyi di balik frasa tertentu karena mengakui bahwa kita tidak bahagia terasa terlalu menakutkan atau terlalu rentan.
Dalam pekerjaan saya sebagai seorang psikolog, saya telah melihat bagaimana kebiasaan linguistik yang halus ini dapat menjadi perisai, melindungi kita untuk mengungkapkan perasaan kita yang lebih dalam kepada orang-orang di sekitar kita, dan bahkan kepada diri kita sendiri.
Jika Anda menyadari bahwa Anda atau seorang teman sering bersandar pada pernyataan-pernyataan di atas, jangan khawatir. Sebenarnya, sebagian besar dari kita pernah menggunakan beberapa frasa ini di saat-saat terendah kita.
Kuncinya adalah mengenali kapan kata-kata ini tidak lagi berbahaya dan mulai menjadi topeng untuk ketidakbahagiaan yang sesungguhnya.
Dikutip dari Blog Herald pada Sabtu (10/5), mari kita bahas beberapa yang paling umum.
1. “Aku baik-baik saja.”
Berapa kali Anda mengatakan “Saya baik-baik saja” bahkan ketika Anda tidak baik-baik saja?
Ungkapan sederhana ini sering kali merupakan kode untuk “Saya tidak ingin membicarakannya” atau “Saya takut kamu tidak akan mengerti.” Kadang-kadang terasa lebih mudah untuk mengalihkan perhatian daripada mengambil risiko dihakimi atau dipecat.
Dalam sesi terapi, saya sering mendengar klien mengatakan “Saya baik-baik saja” sebagai refleks sebelum mereka menyadari bahwa mereka membawa segunung stres atau kesedihan.
Apa yang ada di balik ungkapan ini?
Kadang-kadang karena takut dicap “dramatis” atau “terlalu sensitif”. Kadang-kadang itu adalah kebiasaan yang terbentuk selama masa kanak-kanak, mungkin Anda diberitahu untuk “tetap tenang” apa pun yang terjadi.
Seiring berjalannya waktu, “Saya baik-baik saja” dapat menjadi jawaban default Anda, bahkan ketika Anda sangat membutuhkan bahu untuk menangis.
Saya ingat seorang mantan klien yang berulang kali mengatakan “Saya baik-baik saja” setiap kali saya menanyakan perasaannya tentang serangkaian tantangan hidup.
Setelah beberapa sesi, dia akhirnya mengakui bahwa “Saya baik-baik saja” adalah sebuah perisai. Ia takut jika ia lengah, ia akan mulai menangis dan tidak pernah berhenti.
Setelah kami berhasil mengatasi ketakutan itu, ia menemukan bahwa berbagi kerentanannya benar-benar terasa membebaskan.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
