Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 April 2025 | 23.54 WIB

Pria yang Marah Tak Masuk Akal saat Tim Olahraganya Kalah Biasanya Pernah Mengalami 10 Hal Ini di Masa Kecil, Menurut Psikologi

Ilustrasi pria yang marah tim olahraganya kalah (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Saat tim olahraga kesayangan pria kalah, sering kali terlihat reaksi marah yang tak terkontrol. Bukan sekadar kekecewaan, melainkan kemarahan yang berlebihan. Lalu, apa yang sebenarnya memicu reaksi emosional yang begitu kuat ini?

Psikologi menunjukkan bahwa reaksi terhadap tim olahraga favorit sering kali dapat ditelusuri kembali ke pengalaman masa kecil. Beberapa pria yang bereaksi seperti ini mungkin pernah mengalami hal-hal tertentu yang membentuk cara mereka merespons situasi emosional.

Memahami pengalaman-pengalaman tersebut, baik yang terjadi pada diri sendiri ataupun orang terdekat, dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya mendasari reaksi emosional ini.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (26/4), berikut ini adalah 10 pengalaman masa kecil yang menurut psikologi sering memengaruhi pria yang marah tak masuk akal saat tim olahraganya kalah.

1. Tumbuh di Keluarga yang Menjunjung Tinggi Olahraga

Salah satu faktor yang sering ditemukan adalah tumbuh di keluarga yang menjadikan olahraga sebagai pusat perhatian. Dalam keluarga seperti ini, emosi yang terlibat dalam sebuah pertandingan bisa sangat besar.

Sejak usia dini, individu belajar menghubungkan kemenangan tim favorit dengan perayaan penuh sukacita, sementara kekalahan bisa berujung pada rasa kecewa bahkan marah. Ikatan emosional ini terhadap tim tetap terbawa hingga dewasa.

Carl Jung, seorang psikolog terkenal, mengatakan, "Pertemuan dua kepribadian seperti pertemuan dua zat kimia: jika ada reaksi, keduanya akan berubah." Hal ini menggambarkan bagaimana lingkungan keluarga dapat membentuk perilaku dan reaksi seseorang di kemudian hari.

Di keluarga yang menjadikan olahraga hal utama, reaksi emosional terhadap kemenangan dan kekalahan sering kali memiliki kekuatan yang setara dengan bentuk ikatan atau konflik keluarga lainnya.

2. Diajarkan Bahwa Kemenangan Adalah Segalanya

Tumbuh dengan keyakinan bahwa kemenangan adalah segalanya bisa berpengaruh besar. Seperti yang diingat banyak orang, ada pepatah dari orang tua atau pelatih yang menyebutkan, "Kemenangan bukanlah segalanya, tetapi satu-satunya hal yang berarti."

Pernyataan ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi tanpa disadari, hal ini menanamkan keyakinan bahwa kegagalan tak dapat diterima. Ketika kita diajarkan sejak kecil bahwa hanya kemenangan yang diinginkan, obsesi terhadap kemenangan bisa tumbuh, yang akhirnya membuat kekalahan menjadi sangat sulit diterima.

Albert Bandura, seorang psikolog ternama, mengatakan, "Orang yang percaya diri dalam kemampuannya akan melihat tugas-tugas sulit sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, bukan sebagai ancaman yang harus dihindari." Ini menunjukkan pentingnya menerima kekalahan sebagai bagian dari proses, yang pada gilirannya bisa menghindarkan kita dari kemarahan tak masuk akal.

3. Merasa Tidak Memiliki Kendali pada Masa Kecil

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore