JawaPos.com-Pernahkah Anda menyadari bahwa tanpa sadar, Anda mulai bertindak seperti orang tua Anda? Mungkin Anda menyusun daftar belanja mingguan, mematikan lampu di ruangan kosong, atau bahkan menyimpan perangkat lama yang masih bisa digunakan, semua tanpa sadar meniru gaya hidup generasi sebelumnya. Anda tidak sendiri.
Generasi Milenial, mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, seringkali dianggap sebagai pelopor perubahan budaya, teknologi, dan nilai-nilai hidup. Namun, meskipun tumbuh di era digital yang serba cepat, mereka tetap membawa banyak warisan dari orang tua mereka, Generasi Baby Boomer, ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ironisnya, kebiasaan-kebiasaan ini bukan hasil dari didikan formal atau pelajaran panjang lebar. Sebaliknya, mereka terserap secara diam-diam melalui pengamatan, pengalaman, dan—yang paling menarik—muncul kembali saat Milenial mulai memasuki fase dewasa, membentuk rumah tangga, dan menghadapi tantangan kehidupan nyata.
Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Selasa, 8 April 2025, berikut adalah lima kebiasaan khas Boomer yang kini dihidupkan kembali oleh Generasi Milenial—dengan cara yang lebih modern, tentu saja. Dan mengapa kebiasaan ini sebenarnya bukan hanya warisan, tetapi juga solusi cerdas di zaman sekarang.
1. Meninggalkan Pesan Suara (Versi Modern)
Dulu: Pesan suara adalah standar komunikasi. Orang tua Boomer meninggalkan pesan telepon dengan format khas: "Hai, ini Ayah, tolong hubungi saya kembali saat kamu sempat."
Sekarang: Milenial, yang dibesarkan dalam era SMS dan media sosial, awalnya merasa pesan suara kuno. Tapi lihat sekarang: mereka justru kembali ke gaya komunikasi suara—melalui WhatsApp Voice Note, Telegram, hingga fitur DM Instagram dengan rekaman suara.
Alasannya? Lebih personal, lebih cepat, dan lebih spontan. Voice note memberi sentuhan emosional yang tidak bisa ditandingi teks, terutama dalam komunikasi penting atau saat menyampaikan dukungan emosional. Bahkan, beberapa perusahaan teknologi kini mengembangkan fitur pengubah suara otomatis dan AI transcriber untuk menyesuaikan tren ini.
Data menarik: Peningkatan penggunaan voice message di WhatsApp mencapai 200% dari tahun 2022 hingga 2024, menurut laporan TechRadar.
Kenapa Ini Menjadi Warisan Penting:
Pesan suara mengembalikan elemen “manusia” dalam komunikasi. Ini bukan hanya tentang menyampaikan informasi—tetapi membangun koneksi. Boomer melakukannya dahulu, dan kini Milenial melanjutkannya—dengan cara yang lebih fleksibel dan estetik.
2. Semangat “Do It Yourself” dan Memperbaiki Barang Rusak
Boomer Style: Orang tua kita tumbuh di masa ketika mengganti sesuatu yang rusak adalah pilihan terakhir. Dari menjahit baju sobek hingga memperbaiki radio rusak, semua dilakukan sendiri.
Milenial Style: Di tengah budaya konsumtif dan klik instan “Add to Cart”, semangat DIY sempat meredup. Namun kini, ia bangkit lagi—terutama saat krisis keuangan atau tren slow living.
Milenial mulai:
Belajar menjahit ulang pakaian favorit
Mengganti baterai gadget sendiri dengan bantuan YouTube
Memperbaiki perabot rumah tangga alih-alih membeli baru
Kenapa Ini Relevan Hari Ini:
Selain menghemat uang, DIY menciptakan rasa kontrol, kemandirian, dan mengurangi limbah elektronik atau tekstil—isu besar bagi generasi peduli lingkungan. Semangat memperbaiki barang, bukan membuangnya, adalah salah satu kebiasaan paling bijak dari generasi Boomer yang kini kembali relevan.
3. Nostalgia dan Romantisasi Masa Lalu
Boomer Mode: "Dulu musik lebih berkualitas." "Dulu kita bermain di luar, bukan di depan layar." Sound familiar?
Milenial Mode: "Aku rindu masa awal Instagram tanpa algoritma." "Tidak ada yang bisa menandingi kartun Sabtu pagi." Kita menyerap nostalgia itu—dan menciptakan versi kita sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar mengeluh. Ini adalah bentuk anchoring—menambatkan diri ke momen yang terasa lebih sederhana dan otentik.
Contoh populer: Milenial mendominasi tren retro, seperti:
Memutar kaset dan piringan hitam
Menonton ulang serial 90-an di Netflix
Menghidupkan kembali mode lawas (vintage fashion)
Nostalgia memberi kenyamanan psikologis di era yang penuh tekanan. Sama seperti Boomer mengenang masa lalu, Milenial melakukannya sebagai bentuk pelarian yang sehat dan kadang menyenangkan.
4. Menjaga Batasan Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
Boomer Style: Pukul 5 sore, pekerjaan selesai. Tidak ada email malam hari, tidak ada panggilan mendadak.
Milenial Reality: WFH, Slack, Zoom meeting, dan notifikasi WhatsApp grup kantor 24/7. Awalnya semua kabur. Tapi kini? Batas itu sedang dibangun kembali.
Milenial mulai sadar bahwa:
Detoks digital itu penting
Burnout nyata adanya
Kehidupan di luar layar sangat berharga
Pelajaran dari Boomer:
Meskipun mereka dianggap workaholic, Boomer paham kapan harus berhenti. Mereka menikmati makan malam keluarga tanpa gangguan layar. Milenial yang sadar kesehatan mental kini mulai meniru ini—mengatur downtime, menyetel waktu non-respons, dan menghargai “off mode”.
5. Menunda Ganti Gadget Sampai Benar-Benar Perlu
Boomer Habit: Menggunakan satu perangkat selama mungkin. “Masih bisa dipakai, ngapain ganti?”
Milenial Today: Meski hidup dalam revolusi teknologi, banyak Milenial yang enggan upgrade gadget. Mereka:
Masih pakai iPhone lama dengan casing terkelupas
Pakai laptop 2015 untuk kerja kreatif
Memperbaiki earphone rusak dengan lakban
Kenapa Ini Masuk Akal:
Gadget makin mahal, teknologi makin cepat berubah, dan keterikatan emosional terhadap perangkat lama (yang “masih berfungsi”) tetap kuat. Milenial mewarisi sikap hati-hati ini—lebih dari sekadar hemat, ini bentuk kesadaran terhadap konsumsi.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Pada akhirnya, kebiasaan Boomer bukan tentang kuno atau ketinggalan zaman. Mereka adalah strategi bertahan hidup, cara hidup hemat, dan fondasi nilai-nilai kehidupan yang kuat.
Generasi Milenial yang sempat "melawan" nilai orang tua mereka kini menyadari—ada banyak kebijaksanaan yang tidak lekang oleh waktu.
Dan menariknya, bukan hanya Milenial yang mempraktikkan kembali kebiasaan-kebiasaan ini. Generasi Z pun mulai menunjukkan gejala serupa: mencintai retro, kembali ke slow fashion, dan menghindari gadget overuse.
Generasi Milenial bukan hanya pewaris, tetapi juga kurator gaya hidup modern. Mereka tidak sekadar meniru, tetapi menyaring, mengadaptasi, dan memodernisasi kebiasaan lama agar tetap relevan.
Lima kebiasaan Boomer yang kini hidup kembali di tangan Milenial adalah bukti bahwa nilai-nilai yang kuat tidak lekang oleh zaman—mereka hanya bertransformasi.
Dan jika Anda mendapati diri Anda mengatakan hal seperti, “Saya akan perbaiki dulu sebelum beli baru” atau “Saya butuh waktu offline,” ingatlah: itu bukan kebiasaan baru—itu adalah kebijaksanaan lama yang sedang Anda hidupkan kembali.***
Kreator Konten: Yurahmi Putri
Deskripsi: Generasi Milenial bukan hanya pewaris, tetapi juga kurator gaya hidup modern. Mereka tidak sekadar meniru, tetapi menyaring, mengadaptasi, dan memodernisasi kebiasaan lama agar tetap relevan.