Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 April 2025 | 18.24 WIB

Menurut Psikologi: 7 Kebiasaan Orang yang Tidak Memiliki Teman Dekat atau Keluarga untuk Bersandar secara Emosional

Ilustrasi tujuh kebiasaan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar secara emosional. (Pexels/Liza Summer) - Image

Ilustrasi tujuh kebiasaan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar secara emosional. (Pexels/Liza Summer)

JawaPos.com - Dalam hidup, ada perbedaan jelas antara kemandirian dan isolasi diri. Ketika berbicara tentang kemandirian, kita sering kali memuji kemampuan untuk berdiri sendiri, menjalani hidup tanpa terus menerus mencari bantuan.

Di sisi lain, isolasi diri memberikan gambaran yang lebih suram. Anda mendapati diri tanpa teman dekat atau keluarga yang dapat diandalkan secara emosional. Psikologi memberikan wawasan mengenai kebiasaan dari individu yang berada dalam posisi ini.

Meskipun situasi ini cukup menantang, tidak semuanya suram. Dilansir dari geediting, terdapat tujuh kebiasaan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar secara emosional.

1. Merangkul kesendirian

Orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar sering kali sangat menghargai waktu sendiri. Bertentangan dengan kepercayaan umum, ini tidak selalu merupakan tanda kesepian atau depresi.

Meskipun kebiasaan ini mungkin tampak mengisolasi bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dapat menjadi sarana yang ampuh untuk menemukan jati diri dan pertumbuhan pribadi.

2. Kemandirian

Orang-orang dalam situasi ini sering mengembangkan keterampilan, ketahanan, dan semacam kemandirian yang mungkin tidak dipahami atau dihargai oleh banyak orang lain. Ini tidak berarti mereka tidak mampu menerima bantuan.

Sebaliknya, mereka belajar menjalani hidup dengan mengandalkan kekuatan dan akal mereka sendiri. Jangan salah mengartikan kemandirian mereka sebagai kesombongan atau keras kepala.

Itu adalah kebiasaan yang lahir karena kebutuhan, tetapi sering kali menghasilkan rasa percaya diri dan kompetensi yang kuat.

3. Ketahanan emosional

Orang-orang ini belajar, terkadang dengan cara yang sulit, bahwa mereka perlu menjadi pemandu sorak bagi diri mereka sendiri, orang yang percaya pada mereka sendiri, dan pendukung mereka sendiri.

Hal ini tidak selalu mudah, ada saat-saat meragukan diri sendiri, saat-saat patah hati, saat-saat kelelahan yang amat sangat. Namun dalam menghadapi semuanya, mereka tetap bertahan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh psikolog dan penyintas Holocaust Viktor Frankl, “Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.”

Orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar sering kali mengembangkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi tekanan emosional dan bangkit kembali dari kekalahan pribadi.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore