Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Maret 2025 | 00.05 WIB

Seseorang yang Terlalu Kritis terhadap Penampilan Biasanya Punya 8 Pengalaman yang Bisa Membentuk Kebiasaan Ini, Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang sedang berpikir kritis. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang sedang berpikir kritis. (Freepik)

JawaPos.com - Pernah merasa selalu menemukan kekurangan dalam penampilan sendiri? Kebiasaan ini sering kali berakar dari pengalaman masa lalu, terutama saat masih kecil atau remaja.

Tanpa disadari, momen-momen itu membentuk cara kita melihat diri sendiri di cermin. Memahami asal-usul perasaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi agar kita bisa lebih menerima diri sendiri.

Dikutip dari Small Business Bonfire, Rabu (26/3), berikut delapan pengalaman yang sering dialami oleh orang-orang yang cenderung terlalu kritis terhadap penampilannya.

  1. Hidup dalam bayang-bayang perbandingan

Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan standar yang ditentukan oleh orang lain. Mungkin ada saudara yang selalu dipuji, teman yang tampak lebih menarik, atau selebriti yang menjadi tolok ukur kecantikan.

Perbandingan ini bisa datang dari mana saja—keluarga, teman, bahkan diri sendiri. Lama-kelamaan, kita mulai menilai nilai diri berdasarkan penampilan. Sayangnya, perbandingan ini jarang menguntungkan diri kita sendiri.

Tapi ingat, kebiasaan membandingkan ini bukan sifat bawaan, melainkan sesuatu yang dipelajari. Dan hal yang dipelajari bisa diubah.

  1. Pernah mengalami bullying

Komentar negatif tentang penampilan yang kita terima saat kecil bisa bertahan lama dalam ingatan. Misalnya, diejek karena jerawat, bentuk tubuh, atau gaya berpakaian.

Sering kali, ejekan itu meninggalkan luka emosional yang dalam. Kita jadi melihat diri sendiri melalui perspektif para pelaku bullying. Padahal, kata-kata mereka lebih mencerminkan ketidakamanan mereka sendiri dibandingkan kenyataan tentang diri kita.

Langkah pertama untuk sembuh adalah menyadari bahwa harga diri kita tidak ditentukan oleh omongan orang lain.

  1. Tumbuh dalam lingkungan yang perfeksionis

Banyak orang yang terlalu kritis terhadap penampilannya berasal dari lingkungan yang menuntut kesempurnaan. Sejak kecil, mereka mungkin terbiasa dengan ekspektasi tinggi dalam akademik, olahraga, atau aspek lainnya.

Tekanan ini bisa meluas ke cara mereka memandang tubuh sendiri. Jika tidak memenuhi standar tertentu, mereka merasa gagal.

Melepaskan pola pikir ini berarti memahami bahwa kesempurnaan bukan segalanya. Yang lebih penting adalah menerima diri sendiri dengan segala kekurangannya.

  1. Terpengaruh standar media

Dari kecil, kita dibombardir dengan gambaran tubuh "sempurna" dari televisi, film, majalah, hingga media sosial. Tanpa sadar, kita menganggap bahwa itulah standar yang harus dicapai.

Padahal, banyak dari gambar tersebut sudah melalui proses editing dan filter. Kenyataannya, semua orang punya kekurangan—hanya saja, tidak semua ditampilkan di media.

Menyadari hal ini bisa membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih realistis dan menerima bahwa tidak ada tubuh yang benar-benar sempurna.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore