Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Maret 2025 | 19.54 WIB

Orang yang Menaikkan Suaranya Saat Kalah Berdebat, Biasanya Memiliki 7 Sifat Ini: Salah Satunya Mereka Punya Rasa Insecure

Ilustrasi orang yang menaikkan suara saat kalah debat. - Image

Ilustrasi orang yang menaikkan suara saat kalah debat.

JawaPos.com - Saat berdebat atau adu argumen, kita selalu ingin menang dan membenarkan suatu hal menurut pandangan sendiri. Misalnya menyangkut prinsip dalam bekerja atau bahkan hubungan asmara.

Pada akhirnya berdebat juga sering menimbulkan kebencian dan kemarahan, karena pada dasarnya kita merujuk pada sudut pandang pribadi bukan pada kebenaran.

Dilansir dari laman Small Biz Technology pada Sabtu (15/03) orang yang menaikkan suaranya saat kalah berdebat, biasanya memiliki 7 sifat ini:

1. Punya rasa tidak aman atau insecure

Psikolog menyarankan bahwa itu bisa menjadi tanda ketidakamanan. Ketika seseorang merasa terpojok atau tidak dapat mempertahankan sudut pandangnya dengan argumen logis, mungkin meninggikan suara adalah upaya untuk mendapatkan kembali kendali atau menegaskan dominasi.

Ketika orang tidak yakin tentang sikap mereka dalam sebuah argumen, mereka dapat mengimbangi dengan berbicara lebih keras. Memahami sifat ini lebih dari sekadar berurusan dengan suara-suara yang ditinggikan, tapi tentang mengenali ketidakamanan yang mendasarinya.

2. Keinginan untuk memperkuat volume

Perilaku ini sejalan dengan sesuatu yang dikatakan para psikolog, dan ini disebut sebagai perilaku dominasi. Ketika orang merasa mereka kehilangan kendali atau kekuasaan dalam suatu situasi, mereka mungkin menggunakan suaranya sebagai sarana untuk menegaskan dominasi atau otoritas.

Carl Jung, seorang psikiater dan psikoanalis Swiss yang terkenal pernah berkata: “Di mana cinta memerintah, tidak ada kemauan untuk berkuasa, dan di mana kekuasaan mendominasi, di sana cinta kurang, yang satu adalah bayangan yang lain.”

Dalam konteks ini, keinginan untuk kontrol atau kekuasaan dapat menaungi komunikasi yang efektif dan menyebabkan peningkatan volume. Merefleksikan pengalaman pribadi ini membuat kita lebih sadar tentang bagaimana emosi kita dapat memengaruhi reaksi selama konflik.

3. Perasaan tidak cukup dapat memicu reaksi keras

Reaksi ini tidak jarang terjadi. Psikolog menyoroti bahwa perasaan tidak cukup terkadang dapat memicu reaksi yang lebih keras selama berdebat. Seolah-olah volume yang meningkat mengkompensasi kurangnya validitas yang dirasakan dalam argumen seseorang.

Abraham Maslow, salah satu psikolog paling terkenal di abad ke-20, pernah berkata: "Apa yang diperlukan untuk mengubah seseorang adalah mengubah kesadarannya tentang dirinya sendiri."

4. Mengalami ketakutan

Ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi terkadang, orang-orang yang meninggikan suara mereka dalam berdebat sebenarnya adalah orang-orang yang paling takut akan konfrontasi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore