
Ilustrasi orang yang menaikkan suara saat kalah debat.
JawaPos.com - Saat berdebat atau adu argumen, kita selalu ingin menang dan membenarkan suatu hal menurut pandangan sendiri. Misalnya menyangkut prinsip dalam bekerja atau bahkan hubungan asmara.
Pada akhirnya berdebat juga sering menimbulkan kebencian dan kemarahan, karena pada dasarnya kita merujuk pada sudut pandang pribadi bukan pada kebenaran.
Dilansir dari laman Small Biz Technology pada Sabtu (15/03) orang yang menaikkan suaranya saat kalah berdebat, biasanya memiliki 7 sifat ini:
1. Punya rasa tidak aman atau insecure
Psikolog menyarankan bahwa itu bisa menjadi tanda ketidakamanan. Ketika seseorang merasa terpojok atau tidak dapat mempertahankan sudut pandangnya dengan argumen logis, mungkin meninggikan suara adalah upaya untuk mendapatkan kembali kendali atau menegaskan dominasi.
Ketika orang tidak yakin tentang sikap mereka dalam sebuah argumen, mereka dapat mengimbangi dengan berbicara lebih keras. Memahami sifat ini lebih dari sekadar berurusan dengan suara-suara yang ditinggikan, tapi tentang mengenali ketidakamanan yang mendasarinya.
2. Keinginan untuk memperkuat volume
Perilaku ini sejalan dengan sesuatu yang dikatakan para psikolog, dan ini disebut sebagai perilaku dominasi. Ketika orang merasa mereka kehilangan kendali atau kekuasaan dalam suatu situasi, mereka mungkin menggunakan suaranya sebagai sarana untuk menegaskan dominasi atau otoritas.
Carl Jung, seorang psikiater dan psikoanalis Swiss yang terkenal pernah berkata: “Di mana cinta memerintah, tidak ada kemauan untuk berkuasa, dan di mana kekuasaan mendominasi, di sana cinta kurang, yang satu adalah bayangan yang lain.”
Dalam konteks ini, keinginan untuk kontrol atau kekuasaan dapat menaungi komunikasi yang efektif dan menyebabkan peningkatan volume. Merefleksikan pengalaman pribadi ini membuat kita lebih sadar tentang bagaimana emosi kita dapat memengaruhi reaksi selama konflik.
3. Perasaan tidak cukup dapat memicu reaksi keras
Reaksi ini tidak jarang terjadi. Psikolog menyoroti bahwa perasaan tidak cukup terkadang dapat memicu reaksi yang lebih keras selama berdebat. Seolah-olah volume yang meningkat mengkompensasi kurangnya validitas yang dirasakan dalam argumen seseorang.
Abraham Maslow, salah satu psikolog paling terkenal di abad ke-20, pernah berkata: "Apa yang diperlukan untuk mengubah seseorang adalah mengubah kesadarannya tentang dirinya sendiri."
4. Mengalami ketakutan
Ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi terkadang, orang-orang yang meninggikan suara mereka dalam berdebat sebenarnya adalah orang-orang yang paling takut akan konfrontasi.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
