Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Maret 2025 | 00.25 WIB

Orang yang Mem-private alias Mengunci Akun Media Sosial Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi akun media sosial yang private. (Lifewire) - Image

Ilustrasi akun media sosial yang private. (Lifewire)

JawaPos.com – Ada perbedaan menarik antara orang-orang yang menjaga profil media sosialnya tetap publik dan mereka yang lebih suka melakukan pengaturan privasi.

Menurut psikologi, perbedaan ini sering kali mencerminkan perilaku tertentu yang terkait dengan ciri-ciri kepribadian.

Mereka yang menjaga akun profil media sosial tetap private biasanya menunjukkan serangkaian 8 perilaku ini, seperti dilansir dari Geediting.

  1. Keinginan untuk mengendalikan

Salah satu perilaku utama yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merahasiakan profilnya adalah keinginan kuat untuk mengendalikan. Orang-orang ini selektif, waspada, dan penuh perhatian terhadap informasi yang mereka sebarkan ke dunia.

  1. Penghargaan atas hubungan yang tulus

Orang yang merahasiakan profil media sosialnya, cenderung lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas bila menyangkut koneksi.

Perilaku ini menunjukkan banyak hal tentang preferensinya terhadap interaksi sosial yang lebih dalam dan bermakna, baik daring maupun luring.

  1. Tingkat ekstroversi yang lebih rendah

Orang yang mendapat skor tinggi dalam ekstroversi lebih cenderung memiliki profil media sosial publik. Sebaliknya, mereka yang menjaga profilnya tetap private biasanya menunjukkan tingkat ekstroversi yang lebih rendah.

Ini bukan berarti mereka antisosial atau tidak suka bergaul. Melainkan lebih suka pertemuan sosial yang lebih kecil dan akrab daripada pertemuan sosial yang besar dan terbuka.

  1. Nilai tinggi pada privasi 

Salah satu ciri paling umum dari orang-orang yang menjaga profil media sosialnya tetap terkunci adalah tingginya rasa hormat terhadap privasi pribadi.

Orang-orang ini menghargai ruang pribadi dan percaya akan pentingnya menjaga aspek-aspek tertentu dalam kehidupan dari mata-mata. Mereka juga memahami pentingnya privasi di dunia publik yang semakin meningkat.

  1. Rasa keaslian

Orang-orang ini tidak berusaha untuk membentuk kepribadian agar dilihat dunia. Mereka hanya menjadi diri sendiri.

Keaslian ini melampaui kehadiran digital. Itu bagian dari jati diri mereka, individu yang tulus menghargai hubungan nyata daripada hubungan yang dangkal.

  1. Sadar akan jejak digital

Di era digital ini, apa pun yang kita lakukan daring meninggalkan jejak. Mereka sadar bahwa apa yang dibagikan daring dapat dilihat oleh orang lain dan berpotensi bertahan selamanya di dunia internet yang luas.

Perilaku ini bukan berarti merahasiakannya, melainkan tentang menyadari dan bertanggung jawab atas jejak yang mereka tinggalkan di dunia digital.

  1. Kurang rentan terhadap perbandingan sosial

Aspek menarik dari mereka yang menjaga profil media sosialnya tetap private adalah rendahnya kerentanan terhadap perbandingan sosial.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore