DIMINTAI KETERANGAN: Seorang polwan mengawal korban rudapaksa menuju ruang pemeriksaan di kantor Satreskrim Polres Sampang. (Ubaidillahir Ra’ie/Radar Madura)
x
JawaPos.com - Penyelidikan kasus rudapaksa tragis yang menimpa seorang anak di bawah umur, RR, 15, di Kabupaten Sampang, Madura, kini mengungkap fakta baru yang mengejutkan. Polisi menemukan indikasi kuat bahwa aksi bejat yang diduga melibatkan puluhan pelaku tersebut, dikoordinasikan secara terencana melalui sebuah grup khusus di WhatsApp.
Kapolres Sampang, AKBP Hartono, mengungkapkan bahwa grup media sosial tersebut sengaja dibentuk oleh para pelaku setelah mereka tergiur oleh cerita pelaku utama. Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik, grup khusus tersebut dinamai grup "Teh Gembul".
"Jumlah tersangka yang berhasil diamankan masih sama, yakni 13 orang," ujar AKBP Hartono, dikutip dari Radar Madura (JawaPos Group), Jumat (17/7).
Kasus ini mulanya dilakukan oleh pelaku utama berinisial AP, 15, warga Kecamatan Omben. Usai melakukan tindakan keji tersebut, AP menceritakan aksinya kepada rekan-rekannya hingga memicu ketertarikan mereka.
Demi memuluskan komunikasi, mereka kemudian membentuk grup khusus "Teh Gembul". Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota di dalam grup tersebut terus bertambah hingga akhirnya mencapai total 27 orang.
Namun, begitu kasus ini mulai tercium oleh aparat penegak hukum, para pelaku langsung berupaya menghilangkan jejak digital mereka.
"Setelah satu tersangka diamankan di sebuah tempat di Kecamatan Kota Sampang, anggota lainnya kemudian langsung (keluar) dari grup tersebut. Sehingga, isi percakapan sudah tidak terdeteksi," jelas AKBP Hartono.
Pihak kepolisian bergerak cepat dalam memproses para pelaku yang telah tertangkap. Terhitung per Selasa (14/7), dari 13 tersangka yang kini mendekam di sel tahanan, delapan di antaranya telah memasuki pelimpahan tahap dua.
Berkas perkara untuk delapan tersangka tersebut kini telah di-splitsing (dipecah) menjadi lima berkas terpisah untuk kemudian diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang guna proses peradilan lebih lanjut.
Sementara itu, upaya perburuan terhadap belasan terduga pelaku lainnya yang masih berkeliaran terus diintensifkan. Tim Opsnal Satreskrim Polres Sampang sempat melakukan penggerebekan di lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian pada Rabu (15/7), namun target belum berhasil ditemukan.
"Tim khusus (timsus) yang kami bentuk terus melakukan pengejaran," tegas Hartono.
Tragedi memilukan ini memicu keprihatinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang. Terlebih, wilayah yang dikenal luas sebagai Kota Santri ini harus dinodai oleh aksi amoral massal terhadap anak di bawah umur.
Ketua Komisi Fatwa Hukum dan Kajian MUI Sampang, Ach. Rofik, menyesalkan terjadinya peristiwa kelam ini. Ia menduga kuat ada faktor eksternal yang memicu rusaknya moral para pelaku.
"Miras mudah diakses oleh generasi muda, peredaran narkoba juga masih marak," ungkap Ach. Rofik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022