Tim SAR Gabungan menemukan 2 jenazah korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada Selasa (8/7). (Basarnas)
JawaPos.com - Pakar Keselamatan dan Kesehatan (K3) Universitas Airlangga, Neffrety Nilamsari menanggapi kecelakaan Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang karam di Selat Bali, Kamis (3/7) lalu.
Ia menilai karamnya kapal tipe Landing Craft Tank (LCT) atau Ro-Ro Passenger Ferry ini bukan hanya disebabkan cuaca buruk, tetapi juga menjadi cermin kegagalan sistemik dalam keselamatan transportasi laut.
"Cuaca memang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Tetapi teknologi prediksi seharusnya mampu memberi peringatan dini. Kecelakaan ini terjadi karena sistem itu tidak berfungsi atau diabaikan,” tutur Neffrety, Kamis (10/7).
Menurutnya, sistem komunikasi, radar cuaca, hingga deteksi dini seharusnya menjadi standar dari kapal penumpang. Sayangnya, sistem ini kerap luput dan tidak diuji fungsinya secara menyeluruh sebelum kapal ari berlayar.
“Ada kemungkinan kegagalan sistem sehingga tidak bisa memperlihatkan prediksi cuaca sebelum berangkat. Sehingga penerapan keselamatan untuk penumpang dan awak kapal itu menjadi minimal,” imbuhnya.
Neffrety menyoroti kondisi fisik kapal-kapal di Indonesia yang disinyalir tak layak, seperti korosi pada dek kapal. Hal ini bisa membuat kapal mudah robek ketika terseret jangkar. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh merupakan keharusan.
“Pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan, bukan hanya formalitas. Parahnya, banyak kapal yang tidak diperiksa oleh tenaga ahli bersertifikasi. Kesalahan teknis kecil bisa berujung bencana," seru Neffrety.
Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas juga memperbesar risiko kecelakaan laut. Pada kecelakaan tragis KMP Tunu Pratama Jaya, sejumlah korban selamat maupun meninggal dunia tidak terdaftar dalam manifest.
“Penumpang non-manifest sangat berbahaya dalam kondisi darurat. Kapal kekurangan pelampung dan sekoci. Evakuasi jadi kacau, dan identifikasi korban sulit dilakukan,” ujar Dosen Fakultas Vokasi Unair ini.
Di sini, kesadaran publik perlu dibangun. Neffrety juga berharap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan audit secara menyeluruh dan memperketat pengawasan penerapan SOP perusahaan pelayaran.
“Jangan tunggu tragedi berikutnya. Disiplin keselamatan tidak boleh lagi dinegosiasikan. Kalau kapal penuh, jangan nekat. Keselamatan harus jadi prioritas, bukan sekadar tiba lebih cepat," tukasnya.
Kronologi singkat
Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di Selat Bali saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Laporan dari Dermaga LCM Gilimanuk mengungkapkan bahwa KMP Tunu Pratama Jaya sempat mengirim sinyal darurat pada pukul 00.16 WITA. Tak berselang lama, tepat pukul 00.19 WITA, kapal mengalami blackout.
Cuaca ekstrem juga disebut menjadi salah satu penyebab tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Gelombang laut setinggi 2,5 meter di Selat Bali membuat kapal kehilangan stabilitas dan karam di titik koordinat -08°09.371', 114°25, 1569.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
