
Tersangka penerima suap Bowo Sidik Pangarso keluar dari Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (28/3).
JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka. Dia diduga menerima suap untuk kebutuhan 'serangan fajar' dalam pemilu 2019.
Tim pun berhasil menemukan 84 kardus berisikan uang dugaan suap sebesar Rp 8 miliar yang sudah dipecah menjadi Rp50 ribu dan Rp20 ribu dalam 400 ribu amplop putih, di PT Inersia (perusahaan milik Bowo).
Menanggapi itu, peneliti Indonesian Legal Rountable (ILR), Erwin Natosmal Oemar menilai desas desus politik uang dalam memenangkan hati rakyat, dijawab dengan adanya operasi tangkap tangan terhadap Bowo.
"Kasus suap ini mengonfirmasi desas-desus di masyarakat soal masifnya politik uang dalam demokrasi kita," ucapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (30/3).
Dia juga menilai, temuan barang bukti yang berhasil didapatkan oleh lembaga antikorupsi ini merupakan salah satu sejarah besar. Sebab, dalam perjalanan operasi senyap belum ada barbuk yang sebesar ini. "Dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia, ini adalah yang terbesar," tukasnya.
Oleh karena itu, menurutnya dengan adanya kerentanan demokrasi, dalam hal politik uang perlu menjadi perhatian semua pihak. "KPU dan Bawaslu harus harus concern soal ini dalam menyeleksi calon legislator," imbuhnya.
Concern yang dimaksud Erwin yaitu perilaku serangan fajar yang digunakan oleh calon penyelenggara negara dalam mencari suara rakyat. "Terutama soal perilaku 'serangan fajar', Suap kecil yang mempengaruhi preferensi politik masyarakat," tegasnya.
Dalam kasus ini, selain Bowo KPK juga menetapkan dua orang lainnya yaitu Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti dan karyawan PT Inersia, Indung sebagai tersangka.
Kasus ini berkaitan dengan suap kerjasama yang berhubungan dengan pengangkutan di bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT HTK.
Bowo diduga meminta fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD 2 per metric ton. Diduga telah terjadi enam kali penerimaan di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan USD 85.130. Lalu, sekitar Rp 8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019. Ini arena politikus Golkar itu kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2019, di daerah pemilihan Jawa Tengah II.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
