JawaPos.com - Pembunuhan Muhammad Naufal Zidan, mahasiswa Universitas Indonesia oleh seniornya Altafasalya Ardnika Basya menjadi perhatian masyarakat. Hal itu karena Zidan dibunuh dengan sadis yaitu ditusuk beberapa kali, dan jasadnya dimasukkan ke dalam kantong sampah dua lapis.
Tidak hanya itu, pelaku pembunuhan terhadap Muhammad Naufal Zidan adalah kakak angkatan yang juga teman dekatnya, yaitu Altafasalya Ardnika Basya. Mengenai pelaku yang ternyata merupakan teman dekat korban, hal itu dibenarkan oleh paman Naufal, Fais.
Dikutip dari Radar Depok (Jawa Pos Grup), menurut Fais, pelaku sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.
"Saya juga heran mengapa Altaf (sapaan pelaku) bisa sekeji itu. Padahal, Altaf sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Makanya saya tidak habis pikir kok tega sampai membunuh Naufal,” kata Fais pada Sabtu (5/8).
Fais juga sudah bertemu pelaku. Ia ingin Altaf mempertanggung jawabkan perbuatannya di pengadilan.
“Ada raut wajah penyesalan dari Altaf dan ia juga sudah meminta maaf. Tapi kembali lagi, kalau dia ada diposisi seperti keluarga korban bagaimana,” terang Fais.
Masih menurut Fais, Muhammad Naufal Zidan dikenal sebagai orang yang baik dan penurut. Selain itu, Naufal juga memiliki sejumlah prestasi sehingga bisa masuk Universitas Indonesia melalui jalur prestasi.
“Naufal punya mimpi besar yaitu ingin menjadi doktor. Sehingga bisa membawa keluarganya lebih sukses. Dia juga ingin menjadi contoh yang baik untuk keluarga. Ayahnya juga berharap dia jadi doktor, agar bisa bermanfaat di kampungnya sendiri," ungkap Fais.
Sementara itu, mengenai tindak lanjut pihak keluarga, Fais menuturkan, keluarga Naufal akan terus mengawal kasus ini.
"Saya juga meminta tolong kepada media, untuk turut membantu mengawal kasus ini, agar pelaku mendapat hukuman yang setimpal dengan apa yang telah diperbuat," pungkas Fais.
Mengenai awal penemuan jasad Naufal, hal itu berawal dari nomor ponsel korban yang sudah tidak aktif ketika beberapa kali dihubungi saudara dekat korban. Merasa ada yang janggal, saudara Naufal akhirnya datang ke kosnya untuk mengecek.
Ketika sampai kos ternyata dikunci. Akhirnya kecurigaan semakin kuat karena nomor korban sudah dua hari tidak aktif, padahal biasanya sering menghubungi keluarganya.
Kecurigaan dari pihak keluarga ternyata terbukti. Jasad Naufal ditemukan dalam kondisi mengenaskan terbungkus plastik sampah dua lapis di kosnya.
"Jasad terbungkus dalam plastik warna hitam, di bawah kolong tempat tidur. Dalam kamar itu berantakan, tapi terlihat sempat dibersihkan," kata Wakasatreskrim Polres Metro Kota Depok, AKP Nirwan Pohan, Jumat (4/8).