
ILUSTRASI
JawaPos.com - Terbongkarnya prostitusi di dunia maya oleh Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim 18 Desember lalu menjadi perhatian pengamat prostitusi Yuyung Abdi. Fotografer Jawa Pos yang baru saja meraih gelar doktor di Universitas Airlangga dengan disertasi tentang pelacuran itu menyatakan, praktik prostitusi di aplikasi chatting seperti Line lebih protektif dan selektif.
Menurutnya, siapa saja yang ingin masuk ke lingkungan tersebut harus benar-benar diakui kredibilitasnya. Apalagi, aktivitas orang lain bisa dideteksi di menu timeline. ''Kalau orangnya jarang upload foto dan status, mereka curiga. Belum tentu bisa menerima,'' katanya.
Menurut Yuyung, mereka menciptakan Dolly di dunia maya. Namun, seleksi publik yang dilakukan ketat. Harus benar-benar orang yang menginginkan layanan seksual. Tidak terbuka seperti model di media sosial. Setelah berhasil masuk, mereka bisa lebih mudah bertransaksi.
Seperti diberitakan sebelumnya, tim cyberpatrol mengungkap jaringan prostitusi online tersebut pada 18 Desember. Dua tersangka yang diamankan adalah AP dan UY.
AP yang masih berstatus mahasiswa di Surabaya kebagian mencari ''ayam-ayam kampus”. Mencarinya pun dengan cara sembunyi-sembunyi. AP cukup selektif dalam memilih calon ''ayam kampus''. Semuanya adalah teman-teman dekat sesama mahasiswa.
Sedangkan UY yang merupakan warga Ngaglik bertugas menawarkan ''ayam kampus'' kepada klien. Mereka memanfaatkan aplikasi chatting Line dan WhatsApp sehingga lebih privat.
Berdasar penelusuran Jawa Pos, Line memang menjadi salah satu tempat menjajakan ''ayam kampus''. Beberapa akun menawarkan jasa pemuas hasrat seksual. Ada yang hanya chat sex, phone sex, sampai video call sex. Ada juga yang menawarkan masuk ke grup VVIP yang berisi gambar dan video ''nakal''. Gambar dan video itu didapat dari internet. Ada juga yang diproduksi sendiri. Anggota laki-laki harus membayar jika ingin masuk grup tersebut. Tarifnya bermacam-macam, Rp 10 ribu-Rp 100 ribu.
Sementara itu, anggota perempuan bisa gratis. Namun, si perempuan harus berpenampilan menarik. Ukuran tubuhnya harus ''luar biasa''. Bahkan, ada beberapa grup yang berani membayar perempuan-perempuan yang mau melakukan aksi ''berani''.
Tidak sampai di situ saja, ada juga akun yang menawarkan jasa seksual. Mereka bisa dipesan dengan harga yang lebih mahal. Mereka memasang status di timeline yang berisi tarif dan daerah mana saja yang bisa dilayani. Agar mudah dikenali, mereka menggunakan taggar (#) khas. Identik dengan dunia esek-esek.
Modus yang dijalankan pun, lanjut dia, bermacam-macam. Mereka membentuk peer group atau kelompok. Isinya perempuan pekerja seks. Mereka saling menjual satu sama lain. Dari hasil menjual temannya itu, mereka dapat komisi. ''Ini paling umum dilakukan. Banyak sekali modus seperti ini,'' jelas pria 47 tahun tersebut.
Ada juga yang lebih profesional. Terdapat institusi yang menaungi. Persis seperti bentuk lokalisasi, tetapi di dunia maya. ''Mereka bekerja lebih terorganisasi. Lebih rapi. Jadi sangat selektif,'' ungkap Yuyung. (aji/dos)

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
