Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Desember 2016 | 17.00 WIB

Ketika Ada yang hanya Chat Sex, Phone Sex, Sampai Video Call Sex

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

JawaPos.com - Terbongkarnya prostitusi di dunia maya oleh Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim 18 Desember lalu menjadi perhatian pengamat prostitusi Yuyung Abdi. Fotografer Jawa Pos yang baru saja meraih gelar doktor di Universitas Airlangga dengan disertasi tentang pelacuran itu menyatakan, praktik prostitusi di aplikasi chatting seperti Line lebih protektif dan selektif. 



Menurutnya, siapa saja yang ingin masuk ke lingkungan tersebut harus benar-benar diakui kredibilitasnya. Apalagi, aktivitas orang lain bisa dideteksi di menu timeline. ''Kalau orangnya jarang upload foto dan status, mereka curiga. Belum tentu bisa menerima,'' katanya.



Menurut Yuyung, mereka menciptakan Dolly di dunia maya. Namun, seleksi publik yang dilakukan ketat. Harus benar-benar orang yang menginginkan layanan seksual. Tidak terbuka seperti model di media sosial. Setelah berhasil masuk, mereka bisa lebih mudah bertransaksi.



Seperti diberitakan sebelumnya, tim cyberpatrol mengungkap jaringan prostitusi online tersebut pada 18 Desember. Dua tersangka yang diamankan adalah AP dan UY. 



AP yang masih berstatus mahasiswa di Surabaya kebagian mencari ''ayam-ayam kampus”. Mencarinya pun dengan cara sembunyi-sembunyi. AP cukup selektif dalam memilih calon ''ayam kampus''. Semuanya adalah teman-teman dekat sesama mahasiswa.



Sedangkan UY yang merupakan warga Ngaglik bertugas menawarkan ''ayam kampus'' kepada klien. Mereka memanfaatkan aplikasi chatting Line dan WhatsApp sehingga lebih privat.



Berdasar penelusuran Jawa Pos, Line memang menjadi salah satu tempat menjajakan ''ayam kampus''. Beberapa akun menawarkan jasa pemuas hasrat seksual. Ada yang hanya chat sex, phone sex, sampai video call sex. Ada juga yang menawarkan masuk ke grup VVIP yang berisi gambar dan video ''nakal''. Gambar dan video itu didapat dari internet. Ada juga yang diproduksi sendiri. Anggota laki-laki harus membayar jika ingin masuk grup tersebut. Tarifnya bermacam-macam, Rp 10 ribu-Rp 100 ribu.



Sementara itu, anggota perempuan bisa gratis. Namun, si perempuan harus berpenampilan menarik. Ukuran tubuhnya harus ''luar biasa''. Bahkan, ada beberapa grup yang berani membayar perempuan-perempuan yang mau melakukan aksi ''berani''.



Tidak sampai di situ saja, ada juga akun yang menawarkan jasa seksual. Mereka bisa dipesan dengan harga yang lebih mahal. Mereka memasang status di timeline yang berisi tarif dan daerah mana saja yang bisa dilayani. Agar mudah dikenali, mereka menggunakan taggar (#) khas. Identik dengan dunia esek-esek.



Modus yang dijalankan pun, lanjut dia, bermacam-macam. Mereka membentuk peer group atau kelompok. Isinya perempuan pekerja seks. Mereka saling menjual satu sama lain. Dari hasil menjual temannya itu, mereka dapat komisi. ''Ini paling umum dilakukan. Banyak sekali modus seperti ini,'' jelas pria 47 tahun tersebut.



Ada juga yang lebih profesional. Terdapat institusi yang menaungi. Persis seperti bentuk lokalisasi, tetapi di dunia maya. ''Mereka bekerja lebih terorganisasi. Lebih rapi. Jadi sangat selektif,'' ungkap Yuyung. (aji/dos)

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore