Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Oktober 2019 | 20.11 WIB

Tewas Tertancap Pisau di Perut, Dibunuh atau Bunuh Diri?

PENASARAN: Warga sekitar mendatangi rumah karyawan Afdeling Dampar, Kebun Mumbul, Desa Kawangrejo, Mumbulsari, Minggu (27/10). (Jumai/Jawa Pos Radar Jember) - Image

PENASARAN: Warga sekitar mendatangi rumah karyawan Afdeling Dampar, Kebun Mumbul, Desa Kawangrejo, Mumbulsari, Minggu (27/10). (Jumai/Jawa Pos Radar Jember)

JawaPos.com – Fania, warga perumahan karyawan Afdeling Dampar PTPN XII Kebun Mumbul di Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, Jember terbaring tanpa nyawa di atas kasur. Pisau yang menusuk perutnya tertutupi oleh boneka. Meninggalnya perempuan 25 tahun itu diketahui oleh kakak iparnya, Sri Hartatik, 27, dan adik iparnya, Renda, 24, kemarin (27/10) pukul 07.30.

Peristiwa tersebut membuat warga sekitar gempar. Mereka berdatangan ke rumah Fania untuk melihat. Di kamar berukuran 2,5 x 3 meter itu, Fania telentang dengan gawai di sebelah lengannya.

Korban ditemukan meninggal setelah suaminya, Rendy, meminta tolong kepada Renda dan Sri Hartatik untuk melihat korban. Saat membuka pintu kamar, Fania dikira sedang tertidur dengan boneka di atas perutnya sehingga kedua saudaranya itu membangunkannya.

Karena tak kunjung bangun, kedua saksi mencoba mengambil boneka biru berukuran besar di atas perut korban. Namun, mereka langsung terkejut ketika melihat sebilah pisau menancap pada perut sebelah kiri Fania. Keduanya tak berani menarik pisau yang masih menancap tersebut. Apalagi, tubuh korban terus mengeluarkan darah.

Renda mengaku datang ke rumah Fania karena diminta oleh Rendy. Permintaan itu dikirim melalui pesan WhatsApp. ’’Karena Kakak (Rendy, Red) pamit mau ke apotek di Jember untuk membeli obat buat istrinya,’’ jelasnya.

Setelah melihat kejadian tersebut, Sri Hartatik langsung keluar, lalu menuju rumah ketua RT yang berdempetan dengan rumah korban. Selanjutnya, kasus itu dilaporkan ke Polsek Mumbulsari.

Ketua RT 03, RW 23, Dusun/Desa Kawangrejo, Mumbulsari, Anang Cahyo menambahkan, korban bersama suami baru tinggal sekitar 3 bulan di rumah tersebut. ’’Dia baru menikah sekitar setahun lalu. Karena suaminya menjadi sekuriti di kebun, maka rumah karyawan ini ditempati,’’ tuturnya.

Menurut dia, korban jarang bergaul dengan warga sekitar. Mungkin karena masih baru menempati perumahan itu. Ketika suaminya bekerja, korban di dalam rumah. ’’Saya belum pernah melihat korban bersama suaminya ini cekcok mulut,’’ ujarnya.

Suaminya, lanjut dia, bekerja sebagai petugas keamanan Kebun Mumbul saat siang. Ketika pulang kerja, sang suami membantu orang tuanya yang membuka bengkel dan usaha tambal ban untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Selama ini, korban dan suaminya tidak ada masalah. ’’Suaminya pagi-pagi memang bilang kalau istrinya sakit dan harus mencari obat ke apotek di Jember. Bahkan, saya minta Rendy agar membelikan obat saya,’’ kata Rosidi, 55, mertua korban.

Kapolsek Mumbulsari AKP Heri Supadmo membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun, pihak kepolisian belum bisa memberikan kesimpulan. Setelah melakukan olah TKP awal, pihaknya langsung berkoordinasi dengan tim Inafis Polres Jember.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore