
Co-Founder Dusdusan.com, Christian Kustedi
JawaPos.com – Dalam pengembangan bisnis yang dimulai dari nol, tentunya bukanlah hal yang mudah. Butuh kerja keras untuk menjalankannya. Tak hanya itu saja, kehadiran investor tentunya menjadi salah satu hal yang penting.
Segudang pertanyaan terbersit oleh para Founder start up saat membangun bisnis mereka dari nol. Apakah produk atau jasa yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan? Apakah platform yang sudah dikembangkan dan menelan biaya tidak sedikit bisa bertahan? Apakah pasar sudah cukup loyal atau hanya dengan sejentik “iming-iming” langsung pindah ke lain hati? Apakah tim bekerja menuju visi yang sama? Lalu, bagaimana mengembangkan bisnis dengan modal minim atau tanpa bantuan investor?
Terkait hal itu, Co-Founder Dusdusan.com, Christian Kustedi membagikan poin-poin penting mengenai efisiensi budget dalam membangun start up. Poin pertama yaitu, menunda reward. Menunda reward, disini dalam arti menunda mengeluarkan budget yang tidak berdampak langsung bagi percepatan pertumbuhan bisnis.
“Saat pertumbuhan perusahaan cukup signifikan. Seringkali Founder merasa cukup puas dan mulai masuk mode comfort zone. Mulai tercetus ide pindah ke gedung perkantoran elit atau renovasi kantor, dll. Saya menganjurkan sebaliknya. Ketika bisnis sudah bertumbuh, lihat kembali peta bisnis danmarket size yang dituju. Tunda dulu hal-hal yang tidak mempercepat bisnis mencapai visi utamanya. Yang perlu diingat adalah setiap rupiah yang dikeluarkan harus berkontribusi pada pertumbuhan bisnis,” ujar Christian dalam keterangannya yang diterima JawaPos.com, Kamis (28/3).
Christian melanjutkan, poin kedua yang diperhatikan adalah segi pemasaran. Di era digitalisasi ini, semakin banyak marketing tools yang tersedia. Salah satunya adalah media sosial. Dibanding dengan metode pemasaran konvensional, pemasaran digital relatif memiliki keunggulan lebih cepat; efisien; mempunyai target yang jelas; dan dapat dipantau secara real time.
“Setiap Rupiah yang kita punya sangat berarti untuk bertahan di eradigitalisasi ini. Dalam segi pemasaran, gunakan plaform-platform beriklan yang bisa diawasi dengan mudah dan jelas, misal Facebook dan Google Ads,” tambah Christian.
Poin ketiga adalah zero strategy. Yang dimaksud zero strategy dalam hal ini adalah, strategi untuk memperbesar kapasitas bisnis dengan zero budget. Yang pertama dibentuk adalah mindset apa yang bisa dilakukan untuk membesarkan bisnis, baik secara awareness maupun revenue, tanpa menggunakan budget sama sekali, alias nol rupiah.
“Salah satu metode yang sangat efektif saat ini adalah dengan menggerakan “user” Anda, baik secara online maupun secara offline. Pikirkan strategi bagaimana caranya user Anda bisa menciptakan user baru. Apakah perlu membuat loyalty program? Apakah efektif menjalankan referral program?Dan apakah membuat campaign yang sifatnya user-generated contentmasih memiliki dampak signifikan?” tutup Christian.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
