JawaPos Radar | Iklan Jitu

Mahasiswa Desak Pemerintah Batasi Impor Beras

23 September 2018, 05:30:59 WIB | Editor: Estu Suryowati
Mahasiswa Desak Pemerintah Batasi Impor Beras
PEDULI PETANI. Aksi mahasiswa menjelang peringatan Hari Tani Nasional ke 58 di Digulis Untan, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Sabtu (22/9). (Suci Nurdini Setiowati/Rakyat Kalbar/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Mahasiswa Fakultas Pertanian dan BEM Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak mengadakan aksi turun ke jalan jelang peringatan Hari Tani Nasional ke-58 yang jatuh pada 24 September 2018. Aksi dimulai dari pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB.

Sedikitnya 400 orang turut dalam aksi ini. Mereka menggunakan caping serta membawa traktor dan sayur-sayuran di Digulis Untan, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Sabtu (22/9).

"Tadi kami selesai melakukan cocok tanam di kampus, terus kemudian jalan melewati depan Masjid Mujahidin dan baru ke sini bundaran untuk orasi," kata Koordinator Aksi, Faris Ahcmad Z dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Minggu (23/9).

Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan Pontianak Angkatan 2016 ini menjelaskan, kegiatan mereka memang merupakan agenda tahunan. Tujuannya untuk mengelorakan kepentingan petani yang masih terpuruk.

"Mereka itu masih petani primitif. Yang menanam hanya untuk konsumsi, bukan untuk dijual," tegasnya.

Dia meminta, impor beras Indonesia dibatasi. Agar ketidakseimbangan harga beras dengan modal yang dikeluarkan petani lokal dapat teratasi.

"Luas sawah di Indonesia sekitar 8,19 juta hektare. Meski tidak mencukupi, setidaknya bisa lebih mendominasi penjualan beras nasional," lugasnya.

Peserta aksi juga menyayangkan sikap para pejabat yang hanya bisa melakukan proyek pengadaan barang tanpa meningkatkan pendidikan petani. Padahal, peningkatan pendidikan dapat menambah omzet para petani.

"Alangkah baiknya daripada hanya memberikan alat-alat tapi juga disosialisasikan cara bertani yang baik," tuturnya.

Dia mencontohkan di Kabupaten Landak. Orang kampung di sana hanya nanam yang mereka tahu saja yaitu beras kampung. "Padahal bisa dikembangkan," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up