JawaPos Radar | Iklan Jitu

Merebut Kemerdekaan

Gedung Menteng 31, Saksi Bisu Perjalanan Pemuda Indonesia

18 Februari 2019, 01:45:59 WIB
Gedung Menteng 31, Saksi Bisu Perjalanan Pemuda Indonesia
Ilustrasi Gedung Joang 45 (Istimewa)
Share this

Hotel Schomper itu digunakan khusus untuk para pedagang asing, pejabat tinggi Belanda dan pribumi yang singgah di Batavia. Hotel itulah yang kemudian akan menjadi gedung Menteng 31.

Wildan Ibnu Walid, Jakarta

BANGUNAN bersejarah yang berlokasi di Jalan Menteng No. 31, RT 01/RW 10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan begitu banyak catatan perjalanan sejarah bangsa. Gedung yang dulu dikenal dengan Gedung Menteng 31 itu menjadi saksi bisu gerakan Pemuda Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Seraya ingin menceritakan lembaran sejarah tiga masa pendudukan, gedung bergaya arsitektur kolonial itu kini menjadi Museum Joang '45 yang bisa dikunjungi bagi generasi muda Indonesia.

Gedung Menteng 31, Saksi Bisu Perjalanan Pemuda Indonesia
Ilustrasi Gedung Joang 45 (Istimewa)

Sebelum berkembang menjadi kawasan metropolitan dengan gemerlap warna-warni pemandangan ibu kota, daerah Menteng merupakan hutan belantara yang banyak tumbuh Pohon Menteng. Di daerah itu, berkembang pula pemukiman warga keturunan Arab yang sudah lama menetap di Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).

Tak terkecuali tanah yang berdiri bangunan bersejarah Gedung Menteng 31 (Museum Joang '45). Tanah di kawasan tersebut merupakan milik warga keturunan Arab. Sekitar tahun 1930, lokasi tersebut dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian menjadi pemukiman warga keturunan Belanda.

Gedung Menteng 31 Pada Masa Pendudukan Kolonial Belanda

Seiring perkembangan Kota Batavia (sekarang Jakarta), aktivitas perdagangan hasil bumi ke mancanegara semakin meningkat. Melihat geliat pertumbuhan kota semakin meningkat, rupanya seorang pengusaha hotel dan restoran keturunan Belanda, L.C. Schomper pada 1938 membangun hotel.

Untung Supardi, pemandu Museum Joang 45 menceritakan, hotel yang dinamakan Hotel Schomper itu digunakan khusus untuk para pedagang asing, pejabat tinggi Belanda dan pribumi yang singgah di Batavia. Hotel itulah yang kemudian akan menjadi gedung Menteng 31.

Hotel Schomper I merupakan hotel termegah saat itu. Arsitekturnya khas bergaya kolonial kuno. Di bagian depannya, terdapat pilar-pilar marmer yang membatasi serambi depan dan pintu masuk dengan borders marmer.

Di bagian tengah, terdapat ruang tamu sangat luas. Sementara ruang makan ditempatkan di belakang dekat dengan dapur, gudang, dan tiga kamar untuk juru masak.

Di samping kiri dan kanan, bangunan serambi utama membentuk dua sayap dengan 5 kamar di sayap kiri ada 8 kamar besar yang dilengkapi kamar mandi di sayap kanan.

Di era pendudukan Jepang, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia. Para pemuda pejuang itu menjadikan hotel tersebut sebagai asrama pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia.

Sejumlah nama tokoh kemerdekaan, seperti Presiden RI Ke-1, Soekarno; Wakil Presiden, Mohammad Hatta; Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, dan tokoh kemerdekaan lain terlibat dalam proses pendidikan untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

"Di era penjajahan Jepang itulah, nama Hotel Schomper berganti menjadi Gedung Menteng 31," tutur Untung kepada JawaPos.com, Minggu (17/2).

Gedung Menteng 31 Pada Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, Hotel Schomper I dikuasai Sadenbu -- barisan propoganda Jepang. Tepatnya pada Juli 1942, gedung Menteng 31 diserahkan kepada para pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia. Atas kerja keras para pemuda seperti, Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan A.M. Hanafi, mereka menjadikan Gedung Menteng 31 sebagai asrama Angkatan Baru Indonesia.

Berjalannya waktu, gedung Menteng 31 dijadikan markas Pusat Tenaga Rakyat atau PUTERA yang didirikan pada 9 Maret 1943 oleh Badan Pertahanan Jepang. Didirikannya PUTERA bertujuan untuk mewadahi dan mengendalikan kaum nasionalis.

Namun demikian, atas permintaan para pengurus Angkatan Baru Indonesia, para pemuda masih dapat menggunakan gedung tersebut sebagai pangkalan kegiatan gerak cepat Komando Pemuda antara pusat dan daerah.

Alih-alih ingin mengendalikan pergolakan kaum pemuda nasionalis, pada 1 Maret 1944, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru dengan tugas dan tujuan yang sama: memobilisasi rakyat Indonesia dengan nama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa) dan bermarkas di Gedung Menteng 31. Sejak saat itu, para pemuda Menteng 31 berjuang di luar gedung.

Menteng 31 Pada Masa Pasca-proklamasi Kemerdekaan

Pasca-proklamasi kemerdekaan, para pemuda "penghuni" Gedung Menteng 31 berhasil merebut kembali dari tangan Jawa Hokokai pada 23 Agustus 1945. Mereka kemudian melebur dengan Komite Van Aksi Revolusi Proklamasi.

Progam pertama Komite Van Aksi tersebut mendesak agar dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan menjadikan Pembela Tanah Air (PETA) serta eks Heiho (tentara pembantu bentukan Jepang) sebagai Tentara Rakyat Indonesia (TRI).

Setelah PETA dibubarkan oleh Jepang, Komite Van Aksi mengubah total programnya dengan menyusun kekuatan pemuda bersenjata yang dipelopori Angkatan Pemuda Indonesia (API). Mereka kemudian melebur ke dalam organisasi bersenjata bernama 'Laskar Rakjat Djakarta Raja' yang dibentuk di gedung Menteng 31.

Pada 11 November 1945, Perdana Menteri Sjahrir menyatakan Jakarta dijadikan sebagai Kota Diplomasi. Akhirnya, pemuda Menteng 31 dan Laskar Rakjat Djakarta Raja meninggalkan Gedung Menteng 31 dan berpindah ke markas Leonilen di Jatinegara, kemudian Bekasi dan Cikampek.

"Gedung Menteng 31 merupakan tempat merancang berbagai aksi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda pergerakan pada waktu menggunakan gedung Menteng 31 sebagai pusat kegiatan menuju kemerdekaan, termasuk salah satunya adalah rencana Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk melakukan Proklamasi Kemerdekaan sesegera mungkin," ujar Untung mengingat-ingat sejarah kemerdekaan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, berbagai aksi digagas oleh 11 tokoh pemuda di gedung ini melalui Komite Van Aksi yang dibentuk pada 18 Agustus 1945. Mereka adalah; Sukarni, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Wilkana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo Kusnaeni, dan Djohar Nur.

Mereka kemudian mendesak kepada pemerintah agar dibentuk KNIP, PETA, dan Heiho menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI), serta pembentukan beberapa organisasi pemuda seperti, Barisan Pemuda, Barisan Buruh, dan Barisan Tani.

Komite ini pun memprakarsai terjadinya peristiwa Rapat Raksasa Ikada yang bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka dan lepas dari pengaruh penjajahan.

Akibat mempelopori peristiwa itu, sejumlah tokoh pemuda di Gedung Menteng 31 seperti, AK Hanafi, Darwis, DN Aidit, Manaf, Roni, Sidik, Kertapati, MH Lukman, Wahidin Nasution dan Adam Malik ditangkap oleh pemerintah Jepang.

Editor           : Bintang Pradewo
Reporter      : Wildan Ibnu Walid

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini