Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 November 2018 | 18.26 WIB

BNN Kota Malang Antisipasi Penyalahgunaan Rebusan Pembalut

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang AKBP Bambang Sugiharto. - Image

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang AKBP Bambang Sugiharto.

JawaPos.com - Minum air rebusan pembalut untuk mendapat efek mabuk sedang ngetren di sejumlah kalangan anak muda. Hal itupun mendapat perhatian serius dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang. Upaya antisipasi telah dilakukan agar kasus serupa tak terjadi di kota pendidikan.


Kepala BNN Kota Malang AKBP Bambang Sugiharto mengatakan, Malang sudah dikukuhkan menjadi kota layak anak. Untuk itu, BNN merasa bertanggung jawab agar penyalahgunaan air rebusan pembalut seperti di Jawa Tengah tidak terjadi di Kota Malang. "Mudah-mudahan Kota Malang bisa kami antisipasi," ucap Bambang, Kamis (15/11).


Dalam proses pencegahan, sudah ada tim yang dibentuk. Tim terdiri atas Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), BNN, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan kepolisian. Sejumlah parameter juga sudah ditentukan.


Parameter itu mulai dari aspek kesehatan dan kebersihan lingkungan. "Paling tidak ini salah satu solusi sebagai bentuk kreatif center, supaya anak-anak muda di Kota Malang ini tidak melakukan hal-hal negatif," jelas Bambang.


BNN Kota Malag juga telah mengambil langkah untuk menghadang pergerakan tren penyalahgunaan rebusan pembalut di wilayah Jawa Timur (Jatim). Khususnya di Kota Malang.


"Salah satunya kami harus memberikan pengertian, pemahaman kepada anak-anak jalanan yang notabene tidak tahu arti kesehatan. Karena mereka maunya ingin happy-happy biar nanti mirip junkies pemakai narkotika," ulasnya.


Bambang menjelaskan, air rebusan pembalut merupakan alternatif pengganti narkotika. Dalam pembalut perempuan terdapat sebuah gel yang memberi efek seperti narkotika bila direbus. Padahal cara ini sangat membahayakan tubuh.


Biasanya, tren itu digunakan anak-anak jalanan di kawasan-kawasan urban. "Mereka mencari alternatif sensasional yang paling murah, paling gampang meraciknya, paling praktis. Karena mau memakai psikotropika seperti pil koplo, aprazolam dan lain-lain, dianggap sudah mahal. Termasuk pemakaian lem yang harganya sudah naik," jelasnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore