
Kampung Ondel-ondel. (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ondel-ondel yang dikenal sebagai maskot Jakarta hingga kini masih tetap eksis di era digital seperti sekarang. Majunya teknologi, tak memupuskan boneka yang berasal bambu ini dari hati masyarakat ibu kota. Bahkan, sebagian orang menggantungkan hidupnya pada ondel-ondel.
Seperti warga yang tinggal di Jalan Kembang Pacar, Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat. Selain membuat, mereka juga kerap berkeliling atau menawarkan jasa penggunaan ondel-ondel untuk acara pernikahan. Sentra kerajinan ondel-ondel di tempat ini sudah mulai muncul sejak 1980-an.
Setidaknya saat ini ada 7 sanggar pembuat boneka ini. Karena sakinh banyaknya wilayah ini mendapat julukan 'kampung ondel-ondel'. Bagi masyarakat yang melintas di Jalan Kembang Pacar pasti akan menemukan beberapa ondel-ondel yang dipajang disepanjang pinggir jalan.
JawaPos.com sempat berkunjung ke Sanggar Betawi Mamit cs, salah satu sanggar yang terletak di Kramat Pulo ini. Nurjannah, 58, bersama suaminya Abdul Halif sudah menjalankan usaha ini sejak 2011 silam. Mereka meneruskan usaha warisan orang tuanya yang membangun sentra ondel-ondel sejak 1982.
"Kalau bapak kira-kira sudah 8 tahun (mulai produksi ondel-ondel). Cuma dulu bapak doang sekarang sebelah bikin, sebelah lagi bikin," ujar Nurjannah di kediamannya Jalan Kembang Pacar, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (15/6).
Photo
Perkampungan Ondel-ondel di Jakarta Pusat. (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)
Awal mulanya, cerita Nurjannah, membuat ondel-ondel hanya sebatas untuk kepentingan sendiri, seperti untuk pajangan. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan berubah menjadi usaha. Namun, masyarakat tiba-tiba datang satu per satu untuk memesan maskot ibu kota ini.
Karena itu, lama kelamaan tetangga-tetangganya turut membuka jasa pembuatan ondel-ondel. Hingga akhirnya sekarang banyak warga sekitarnya yang menggantungkan hidup dari usaha ini. Warga membeli ondel-ondel kebanyakan untuk usaha. Seperti untuk berkeliling, mengikuti festival, atau untuk jasa nikahan adat betawi. Adapula yang sekedar untuk pajangan di kantor kecamatan atau kantor pemerintahan lainnya.
Photo
Ilustrrasi Ondel-ondel. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Berkembangnya pemanfaatan ondel-ondel membuat Nurjannah juga turut mengikuti perkembangan itu. Sekarang dia tidak hanya membuat, melainkan menawarkan jasa penggunaan ondel-ondel. Bahkan salah satu anaknya ada pula yang mempertontonkan ondel-ondel dengan berkeliling seperti yang banyak terlihat sekarang ini.
"Kalau kita nggak ikutan begitu untuk dapur sehari-hari ya kan bingung juga. Kayak anak ibu (keliling) bawa satu," ucapnya.
Sementara itu, Nurjannah menyampaikan usaha keliling ondel-ondel telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Di zaman sekarang kebanyakan menggunakan musik dari tape recorder. Sedangkan dulu musik yang dihasilkan asli dari alat musik, bukan rekaman. "Buat usaha keliling (sekarang) 4 orang bisa jalan, kalau dulu bapak pakai musik 12 orang minimal," imbuhnya.
Perubahan keadaan ini membuat biaya yang dikeluarkan lebih efektif. Sebab modal mengadakan tape recorder terbilang lebih murah dibanding dengan membawa pasukan pemain alat musik.
Photo
Pembuatan mini atur Ondel-ondel. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Di sisi lain, pembuatan ondel-ondel sendiri terbilang cukup memakan waktu. Untuk membuat kerangkanya dari sebilah bambu utuh bisa sampai dengan dua hari. Kemudian ada proses pencetakan bahan fiber untuk muka ondel-ondel, hingga proses akhir pengecatan. Jika dikalkulasikan bisa memakan waktu sampai dengan seminggu untuk satu orang membuat satu ondel-ondel.
"Kalau mendadak semua, kalau nyetak agak cepat juga, ngecatnya itu agak lama minimal taroh deh seminggu (sampai selesai)," jelas Nurjannah.
Untung saja Nurjannah mengatakan tidak sulit mendapat bahan-bahan dasar pembuat ondel-ondel. Mulai dari bambu sampai dengan fiber bisa ditemukan disekitaran Senen, Jakarta Pusat. Pesanan ondel-ondel juga tak menentu. Pasang surut dialami oleh Sanggar Mamit cs ini. Rata-rata terbanyak dalam sebulan sebanyak 2 pasang atau 4 buah ondel-ondel. Paling sedikit 1 buah boneka.
"Kalau dijual satunya Rp 2 juta, atau sepasang Rp 3 juta cowo-cewe. tapi nggak berikut musik, hanya ondel-ondel," sambungnya.
Harga ondel-ondel tergantung pada ukuran. Ada yang ukuran 1 meter hingga yang tertinggi 2,5 meter. Harga Rp 2 juta per buah untuk ondel-ondel paling besar. Sedangkan untuk ukuran 1 meter berkisar Rp 1,5 juta per buahnya. Adapula ondel-ondel berukuran mini sekitar 30 centimeter yang biasa dipakai untuk souvenir diharga Rp 150 ribu per pasangnya.
Sejauh ini penjualan ondel-ondel di sanggar Mamit cs masih sebatas melayani pembeli sekitaran Jabodetabek. Belum ada pengiriman hingga luar daerah. Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta yang jatuh pada 22 Juni mendatang, dikatakan Nurjannah tak bisa menjamin orderan akan banyak. "Biasa sih yah kadang standar kadang naik. Ada aja sih yang pesan," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
