JawaPos Radar

Gempa Situbondo Diduga Akibat Aktivitas Terusan Sesar Kendeng

Guncangan Dahsyat Terasa di Sampang

12/10/2018, 13:58 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gempa Situbondo Diduga Akibat Aktivitas Terusan Sesar Kendeng
Aparat kepolisian dan TNI membantu salah satu rumah yang abruk akibat dampak gempa bumi di Sumberejo, Pondokrejo, Tumpurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (11/10). (JUMAI/JAWA POS RADAR JEMBER)
Share this

JawaPos.com - Gempa belum berhenti mengguncang negeri ini. Dini hari kemarin pukul 01.44 WIB, sebagian wilayah Jawa Timur dan Bali diguncang gempa 6,0 skala Richter (SR). Akibatnya, tiga orang meninggal dan puluhan lainnya terluka. Selain itu, ratusan rumah rusak.

Berdasar informasi awal yang didapat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berkekuatan 6,4 SR. Namun, catatan dan analisis dari 156 sensor seismik memutakhirkan magnitudo gempa menjadi 6,0 SR. Episentrum gempa terletak sekitar 56 kilometer arah timur laut Situbondo, Jawa Timur, dengan kedalaman 12 kilometer.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadli menyatakan, dengan memperhatikan lokasi episentrum dan hiposentrum, gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal di dasar laut. Dibangkitkan oleh deformasi batuan di kerak dangkal dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Gempa Situbondo Diduga Akibat Aktivitas Terusan Sesar Kendeng
GEMPA JATIM: Pasien dirawat di halaman RSUD Sumenep, Madura. (JAWA POS RADAR SUMENEP)

Sadli menjelaskan, pergerakan sesar tersebut mirip gempa di utara Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores. "Kami akan analisis lebih lanjut apakah gempa ini memiliki kaitan langsung dengan aktivitas sesar naik Flores," katanya.

Hingga pukul 20.00 tadi malam, terjadi sekitar 20 kali gempa susulan (aftershock) yang magnitudonya terus menurun.

Kepala Bidang Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menyatakan, mekanisme gempa bumi itu adalah sesar mendatar (strike) mengiri (sinistral). Dia yakin gempa bumi tersebut tidak berasal dari aktivitas Sesar Kambing sebagaimana yang banyak diberitakan. Lokasinya terlalu jauh dari Sesar Kambing.

Menurut Daryono, jika memang betul gempa disebabkan Sesar Kambing, seharusnya yang terangkat adalah sisi utara sesar. "Sementara ini yang terangkat adalah sisi selatan," jelasnya.

Sejauh ini, para ahli di BMKG menduga, gempa tersebut disebabkan adanya aktivitas dari terusan Sesar Kendeng yang memanjang sampai ke ujung Selat Madura. "Tapi, itu baru dugaan. Bisa jadi ini adalah aktivitas sesar baru," ungkapnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, daerah yang mengalami kerusakan terparah adalah Sumenep. Gempa tersebut mengakibatkan 3 orang meninggal dan 8 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, Jawa Pos Radar Situbondo melaporkan, gempa itu membuat 16 bangunan rusak ringan. Perinciannya, 2 bangunan di Kecamatan Panarukan, 1 di Kecamatan Mangaran, dan 2 bangunan di Kecamatan Arjasa.

Di Kecamatan Situbondo, 1 sekolah rusak ringan. Di Banyuputih, ada 1 musala dan 1 rumah yang rusak. Di Kecamatan Bungatan 1 rumah rusak, Mlandingan 1 gedung SD rusak, dan di Kecamatan Panji 3 rumah rusak. Lalu, di Kecamatan Banyuglugur, 2 rumah rusak dan di Kecamatan Kapongan 1 masjid rusak.

Gempa juga mengakibatkan satu orang mengalami luka berat. Dia adalah Feny Oktaria Ningsih, warga Dusun Kiwondo, Arjasa. Perempuan 39 tahun itu mengalami patah tulang kaki kiri akibat terjatuh di teras belakang rumah saat menyelamatkan diri.

Pantauan koran ini di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, gempa membuat ratusan santri yang tidur di masjid maupun asrama berhamburan. Sebagian memilih tidak tidur lagi. Khawatir ada gempa susulan.

Habibi, santri Sukorejo, menyampaikan bahwa saat gempa terjadi, dia sedang tidur di lantai 2 kantor pusat. Begitu gedung terasa bergoyang, dia lari menyelamatkan diri. "Saya khawatir bangunan kantor ambruk dan tertimpa reruntuhan. Sebab, guncangannya cukup kuat," ucapnya.

Gempa di Situbondo terasa cukup keras di wilayah Banyuwangi. Gara-gara getaran itu, tembok rumah pasangan suami istri (pasutri) Sugeng, 45, dan Tumini, 37, di Dusun Krajan, Desa Bagorejo, ambruk.

Saat gempa yang terjadi pukul 01.44 itu, pasutri tersebut sedang tidur di rumah bersama Putri, 11, anaknya. "Saya bangun, lalu istri dan anak saya bangunkan, kami lari keluar rumah," terang Sugeng kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Ketika berada di depan pintu, tembok rumahnya mulai goyang. Tangan istrinya langsung ditarik untuk kembali masuk ke rumah. "Getaran gempa cukup keras, tembok samping ambruk," terangnya. Tembok itu menimpa mobil Honda Civic dan motor yang parkir di sana.

Guncangan dahsyat juga dirasakan di Sampang. Di RSUD dr Mohammad Zyn, Sampang, gempa membuat pasien dan keluarga pasien panik. Sebanyak 101 pasien berhamburan keluar dari ruangan. Beberapa di antara mereka meneriakkan takbir dan berdoa.

Sejumlah petugas piket dibantu satpam membantu evakuasi pasien yang memaksa keluar ruangan. Sebagian juga ditenangkan supaya tidak beranjak. "Tidak ada korban jiwa dan kerusakan akibat gempa," kata Direktur RSUD dr Mohammad Zyn Titin Hamidah kepada Jawa Pos Radar Sampang.

Hodar adalah satu di antara ratusan pasien yang sedang dirawat. Saat itu dia sedang menjalani perawatan di lantai 2 Ruang Dahlia III. "Ranjang saya tiba-tiba bergoyang. Saya mendengar teriakan gempa. Saya panik dan meminta keluarga untuk membawa saya keluar," katanya.

Pria 40 tahun asal Desa Pandiyangan itu tidak sempat lagi memikirkan jarum infus yang menancap di tangan kirinya. Yang ada dalam pikirannya hanya segera keluar dari ruangan.

Hodar mengaku trauma melihat kejadian di Palu yang menelan banyak korban. Karena itu, dia dibawa lari ke halaman rumah sakit degan menggunakan kursi roda. Jarum infus di tangannya sempat lepas dan mengeluarkan darah akibat gerakan ketika lari turun dari lantai 2.

Guncangan juga terasa di Jember. Plt Kepala Bagian Humas Pemkab Jember Herwan Agus Darmanto mengatakan, berdasar informasi yang dihimpun dari laporan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), gempa tersebut berdampak di enam kecamatan. Mayoritas berada di wilayah pegunungan. Enam kecamatan itu adalah Arjasa, Sukorambi, Mumbulsari, Kaliwates, Tempurejo, dan Patrang.

"Teman-teman muspika di tingkat kecamatan juga terus menyisir untuk mengumpulkan informasi," katanya seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Jember.

Sementara itu, Gubernur Soekarwo kemarin meninjau Pulau Sapudi, Sumenep, yang menjadi daerah dengan kerusakan terparah. Dia menjelaskan, berdasar hasil rapat dengan jajaran forpimda dan tim bencana daerah, seluruh dampak bencana ditangani provinsi. "Itu sudah protap (prosedur tetap) kita. Sejak (letusan gunung) Kelud, (bencana longsor) Ponorogo, maupun Pacitan," kata Soekarwo.

Pemprov bekerja sama dengan polisi dan TNI untuk merekonstruksi rumah warga yang rusak. Perbaikan tersebut dijadwalkan dimulai hari ini. Pemprov menargetkan, rehabilitasi selesai maksimal tiga pekan. "Mulai besok, material dan tim sudah bisa dikirim," katanya.

Dia memastikan, anggaran saat ini masih bisa memenuhi kebutuhan. "Kalaupun kurang, nanti bisa diambilkan melalui proses mendahului anggaran," katanya.

Soekarwo memantau korban gempa bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman. Rombongan berangkat dengan menggunakan helikopter. 

(tau/ris/c5/c10/c7/oni)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up