
Ilustrasi
HONGKONG punya Joshua Wong, pelajar kerempeng yang mampu membangkitkan dan mendorong revolusi sosial di negeri itu. Umurnya masih sangat belia ketika memimpin aksi pada 2014. Langkahnya ketika itu membangkitkan ribuan orang dan memberikan dampak langsung terhadap peta politik Hongkong.
Sebelumnya, pada usia yang masih belia, 15 tahun, dia mengorganisasi teman-temannya sesama pelajar dan membentuk sebuah kelompok bernama Scholarism. Yang dia desakkan adalah memberikan suara politik kepada kaum pelajar. Pada 2012 itu, kelompok yang dia gagas menggerakkan 120 ribu siswa. Program pendidikan nasional yang sudah digagas pemerintah pun batal.
Tiga tahun berselang, remaja semacam Joshua Wong muncul di Surabaya. Namanya Aryo Seno Bagaskoro. Kerempeng, kecil, dan berkacamata. Usianya juga belasan tahun. Kini dengan organisasi yang dipimpinnya, yakni Aliansi Pelajar Surabaya, Seno sedang mendesakkan perubahan kebijakan pendidikan. Sudah lama dia mengorganisasi para pelajar di Surabaya agar berani bersuara.
Maklum, setelah pelimpahan kewenangan pengelolaan SMA/SMK ke pemerintah provinsi, persoalan muncul di mana-mana. Siswa tidak mampu mengeluh tidak kuat lagi membayar SPP. Belum lagi dampak negatif yang berkembang. Siswa tadi minder bila bergaul dengan kawannya yang mampu secara ekonomi. Tentu, Seno tidak ingin hal tersebut berkembang makin tidak menentu di Surabaya.
Seno, remaja itu, berusaha mendesakkan perubahan tersebut. Dia bersama 30 siswa lainnya menemui Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Dia beraudiensi dengan orang nomor dua Jatim itu secara informal di sebuah kafe. Dia mendorong pengambil kebijakan segera menentukan sikap. Belum berhasil, memang. Namun, yang patut diapresiasi, langkah berani itu belum tentu berani dilakukan pelajar seumurannya. Bahkan orang dewasa sekalipun.
Jejak Seno tidak tiba-tiba. Saat masih SMP, dia juga mengorganisasi para pelajar untuk bangkit melawan kenakalan remaja. Isu utama bagi bocah seumurannya. Begitu mengejutkan, banyak pelajar yang mengikuti gerakannya.
Hobi Seno memang tidak umumnya pelajar. Ke mana-mana dia membawa buku-buku tentang tokoh-tokoh pergerakan. Dia mengaku begitu terilhami pemikiran tokoh-tokoh itu.
Sosok semacam Seno merupakan aset bagi Surabaya kelak. Sejak muda, dia sudah menunjukkan jejak kepemimpinan sejati. Citranya dibentuk melalui gerakan nyata. Bukan polesan seperti yang muncul di televisi atau media massa lainnya.
Tanpa karya apa pun, tiba-tiba muncul, lalu merayu publik agar dipilih sebagai pemimpin. Seperti halnya saat pilkada serentak nanti. Banyak di antara kita yang tidak tahu benar sosok yang akan dipilih. Benar-benar buta. Kebanyakan hanya citra luarnya saja yang tampak. Gagah, ganteng, atau galak. (*)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
