
Ilustrasi
MUNDUR sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang pimpinan memang belum membudaya di sini. Karena itu, langkah Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Harsoyo lengser dari jabatan Kamis kemarin (26/1) menyusul meninggalnya tiga mahasiswanya di Gunung Lawu patut diapresiasi.
Seperti dikatakannya dalam jumpa pers, itu bentuk tanggung jawab moral. Pengunduran diri Harsoyo tersebut hendaknya pula menjadi momentum bagi aparat hukum untuk mengusut tuntas kasus memilukan itu. Sebab, yang terjadi di Lawu tersebut bukan lagi sebuah kelalaian. Tapi, kekejaman.
Apa yang terjadi pada Syaits Asyam, Muhammad Fadli, dan Ilham Nurfadmi Listia Adi –tiga korban meninggal– sungguh tak terbayang oleh nalar. Dilakukan di tengah kegiatan ”pencinta alam”, oleh para mahasiswa yang notabene kader intelektual.
Padahal, bukankah, seperti dikatakan Henry David Thoreau, filsuf naturalis Amerika Serikat, orang pergi ke hutan untuk mencari kebijaksanaan? Menyatu dengan alam, belajar rendah hati. Bahwa di sana, di tengah rimba atau di pucuk gunung, mahakecil kita di tengah alam sekitar.
Yang lebih memilukan lagi, meninggalnya tiga mahasiswa UII itu berselang tak lama dari tewasnya Amirulloh Aidtyas Putra, mahasiswa STIP Jakarta, juga akibat penganiayaan senior. Sebelum itu, berderet korban kasus kekerasan lainnya di kampus.
Sampai kapan hal tersebut terus terjadi? Apa yang harus dilakukan pemegang otoritas pendidikan agar kebiadaban itu tidak lantas menjadi siklus?
Barangkali yang bisa diharapkan untuk lebih dulu bergerak adalah kalangan internal kampus sendiri. Rektorat maupun organisasi mahasiswa harus bergandengan tangan untuk sama-sama menghapus kultur kekerasan itu dari kegiatan apa pun.
Pada periode akhir 1960-an, Soe Hok Gie sebenarnya sudah mengingatkan, banyak mahasiswa yang masih bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
”Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi,” ujar Gie dalam salah tulisannya.
Karena itu, berpulangnya Syaits, Fadli, dan Ilham serta mundurnya Rektor UII Harsoyo sepatutnya menggugah kesadaran semua kampus agar segera berbenah. Duduk bersama merumuskan bagaimana agar kegiatan perkuliahan dan aktivitas mahasiswa yang mengiringi bisa lebih mendorong tumbuhnya budaya intelektualisme.
Dan, seperti dikatakan Gie lagi, mahasiswa menjadi pemuda dan pemudi yang bertingkah laku sebagai manusia yang normal. Yang tentunya tak mengedepankan kekerasan dalam berkegiatan. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
