
Ilustrasi pengunjung kawasan Kota Tua Jakarta menyaksikan pagelaran kesenian Betawi. (Istimewa).
JawaPos.com - Upaya memperkenalkan budaya lokal ke panggung global kian beragam. Di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, pendekatan itu dilakukan lewat pengalaman langsung, bukan sekadar pertunjukan, tetapi keterlibatan aktif yang menyentuh sisi sejarah, seni, hingga kuliner.
Beberapa waktu lalu, ratusan kreator konten dari Asia Tenggara diajak menyusuri narasi panjang Jakarta melalui sebuah festival budaya berskala kecil yang dikemas imersif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses budaya kepada audiens global, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota dengan identitas kultural yang hidup.
Para peserta memulai perjalanan dari Museum Sejarah Jakarta, ruang yang menyimpan jejak kolonial dan transformasi kota. Dari sana, mereka berlanjut ke Museum Wayang, tempat seni tradisi diperkenalkan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga praktik, melalui workshop mewarnai wayang.
Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan pertunjukan khas Betawi seperti Keroncong Kemayoran, Tari Yapong, hingga ikon budaya Ondel-ondel. Ragam ekspresi ini memperlihatkan bagaimana tradisi tetap hidup di tengah modernitas kota metropolitan.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menilai pendekatan seperti ini penting untuk memperluas jangkauan budaya. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor membuka peluang baru bagi pengenalan budaya Jakarta ke tingkat global.
“Kolaborasi acara ini memungkinkan konten kreator mancanegara yang hadir merasakan langsung kekayaan budaya Betawi. Rangkaian seperti ini merupakan upaya penting yang dapat memperluas akses terhadap budaya Jakarta, sekaligus memperkenalkannya melalui pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi, guna mendukung kelestariannya,” ujar dia melalui keterangannya.
Menurutnya, pendekatan partisipatif yang melibatkan pengalaman langsung menjadi kunci agar budaya tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan. Hal ini dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) sekaligus menyambut momentum menuju perayaan lima abad Jakarta.
Tidak hanya berhenti pada seni pertunjukan, dimensi kuliner juga menjadi bagian penting dari diplomasi budaya. Sejumlah hidangan legendaris Jakarta diperkenalkan sebagai representasi rasa dan sejarah, memperlihatkan bagaimana makanan menjadi medium narasi yang kuat dalam mengenalkan sebuah kota.
Di sisi lain, kegiatan ini juga mencerminkan tren baru dalam promosi budaya: integrasi antara pengalaman fisik dan teknologi digital. Peserta memanfaatkan fitur berbasis kecerdasan buatan untuk menavigasi lokasi, menemukan rekomendasi tempat, hingga memahami konteks budaya secara lebih personal dan real-time.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
