Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 20.25 WIB

Intip Sejarah Blok M Jakarta Selatan yang Gerainya Tutup Serentak, dari Kompleks Perumahan Era Belanda sampai Tempat Nongkrong Hits Anak Muda

Sejumlah gerai makanan di Blok M Jakarta Selatan tutup serentak. (Instagram @andremandor)

 

JawaPos.com – Media sosial tengah dihebohkan dengan kabar tutupnya sejumlah gerai di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, secara serentak dengan keluhan harga sewa naik tinggi.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, mengingat Blok M dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan hiburan yang legendaris di Ibu Kota.

Kabar tutupnya toko di kawasan Blok M disampaikan salah satu akun Instagram @andremandor. Video yang diunggah pada Kamis (2/4) lalu ini bahkan telah ditonton lebih dari 1 juta kali.

“Toko-toko UMKM yang ada di Blok M sepakat pindah, emang bener ya? Yup bener banget, gue salah satu pelaku UMKM yang ada di sana,” ungkap akun @andremandor.

“Kita tiba-tiba dapat tagihan yang gak ngotak harganya,” tambahnya di akhir video.

Setelah viralnya kabar tersebut, Gubernur Jakarta Pramono Anung meninjau langsung kawasan Blok M pada Rabu lalu (3/9). Pramono membenarkan adanya penarikan tarif sewa di luar ketentuan.

"Saya minta untuk kerja sama yang dilanggar oleh koperasi, kalau mereka tidak memenuhi apa yang menjadi kesepakatan, maka saya minta untuk di-postpone, kerja samanya dihentikan saja," tegas Pramono, Kamis (4/9).

Setelah sidak Pramono di kawasan Blok M, permasalahan ini akhirnya menemukan titik terang. Pramono Anung menawarkan para pelaku UMKM untuk menggunakan area Blok M Hub, tepatnya di lorong B1.

Gubernur Jakarta ini bahkan memberikan keringanan berupa gratis biaya sewa selama 2 bulan awal.

Sejarah Blok M

Blok M bukan sekadar pusat belanja. Kawasan ini memiliki sejarah panjang sejak era kolonial Belanda. Dilansir dari laman kemenpar.go.id, awalnya wilayah ini merupakan kawasan permukiman elite dan pusat aktivitas masyarakat Belanda.

Kala itu, pada 1940-an, wilayah Gambir dan sekitarnya dinilai telah sesak penduduk. Belanda berniat membangun kota satelit, yang kemudian dibagi menjadi beberapa blok, dari Blok A hingga Blok S. Lalu dipilihlah kawasan Blok M sebagai pusat kota. 

Seiring berjalannya waktu, pada 1980-an, Blok M berubah menjadi pusat perbelanjaan dan populer sebagai tempat gaulnya remaja ibu kota.

Tak hanya itu, Blok M juga identik dengan pesona wisata kulinernya. Bahkan oleh sejumlah kalangan, Blok M disebut “Little Tokyo”, karena banyaknya resto Jepang di kawasan ini.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore