Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Januari 2025 | 05.51 WIB

Mengenal China Benteng, Komunitas Tionghoa Bersejarah di Tangerang

Pertunjukan Barongsai mengitari Kampung Pecinan mencari angpau yang telah disediakan disetiap sudut ruangan pada saat perayaan Imlek tahun 2025 dikawasan Tambak Bayan Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/01/2025). (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

Pertunjukan Barongsai mengitari Kampung Pecinan mencari angpau yang telah disediakan disetiap sudut ruangan pada saat perayaan Imlek tahun 2025 dikawasan Tambak Bayan Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/01/2025). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kota Tangerang kini menjadi salah satu pusat urbanisasi di Provinsi Banten, menyimpan sejarah panjang tentang komunitas China Benteng. Kelompok ini merupakan keturunan China yang telah mendiami kawasan Tangerang sejak ratusan tahun lalu.

Nama "China Benteng" berasal dari kata "Benteng", yang merujuk pada nama lama Kota Tangerang, serta keberadaan benteng peninggalan Belanda di tepi Sungai Cisadane.

Sejarah Panjang China Benteng

Keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang telah tercatat sejak tahun 1407 dalam kitab Sunda Tina Layang Parahyang. Dalam kitab ini, disebutkan bahwa rombongan pertama dari Tiongkok, dipimpin oleh Tjen Tjie Lung alias Halung, mendarat di muara Sungai Cisadane, yang kini dikenal sebagai Teluk Naga.

Seiring waktu, komunitas ini berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal, menciptakan perpaduan unik antara budaya China dan Nusantara. Pada masa kolonial, komunitas China Benteng mengalami pasang surut hubungan dengan penduduk pribumi.

Salah satu peristiwa paling kelam terjadi pada 23 Juni 1946, ketika rumah-rumah warga China Benteng dijarah dan dihancurkan akibat ketegangan pasca-kemerdekaan. Konflik ini dipicu oleh insiden seorang tentara NICA keturunan China yang menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.

Konflik yang memanas ini akhirnya diredam oleh pasukan gabungan NICA dan Pao An Tui.

Budaya dan Tradisi yang Tetap Lestari

Meski telah melalui berbagai rintangan sejarah, komunitas China Benteng tetap mempertahankan budaya dan tradisi leluhur mereka. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan adalah kesenian Cokek, tarian khas hasil perpaduan budaya Betawi dan China yang diiringi musik gambang kromong.

Selain itu, tradisi pernikahan mereka masih mempertahankan gaya Dinasti Manchu (Qing). Mereka mengenakan busana khas seperti Manchu robe dan Manchu hat, sebuah tradisi yang bahkan sudah jarang ditemukan di Tiongkok sendiri sejak runtuhnya Dinasti Qing pada tahun 1912.

Orang China Benteng juga dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap (walaupun tetap berkulit kuning) dibandingkan warga keturunan Tionghoa lainnya di Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore