
Pertunjukan Barongsai mengitari Kampung Pecinan mencari angpau yang telah disediakan disetiap sudut ruangan pada saat perayaan Imlek tahun 2025 dikawasan Tambak Bayan Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/01/2025). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kota Tangerang kini menjadi salah satu pusat urbanisasi di Provinsi Banten, menyimpan sejarah panjang tentang komunitas China Benteng. Kelompok ini merupakan keturunan China yang telah mendiami kawasan Tangerang sejak ratusan tahun lalu.
Nama "China Benteng" berasal dari kata "Benteng", yang merujuk pada nama lama Kota Tangerang, serta keberadaan benteng peninggalan Belanda di tepi Sungai Cisadane.
Sejarah Panjang China Benteng
Keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang telah tercatat sejak tahun 1407 dalam kitab Sunda Tina Layang Parahyang. Dalam kitab ini, disebutkan bahwa rombongan pertama dari Tiongkok, dipimpin oleh Tjen Tjie Lung alias Halung, mendarat di muara Sungai Cisadane, yang kini dikenal sebagai Teluk Naga.
Seiring waktu, komunitas ini berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal, menciptakan perpaduan unik antara budaya China dan Nusantara. Pada masa kolonial, komunitas China Benteng mengalami pasang surut hubungan dengan penduduk pribumi.
Salah satu peristiwa paling kelam terjadi pada 23 Juni 1946, ketika rumah-rumah warga China Benteng dijarah dan dihancurkan akibat ketegangan pasca-kemerdekaan. Konflik ini dipicu oleh insiden seorang tentara NICA keturunan China yang menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.
Konflik yang memanas ini akhirnya diredam oleh pasukan gabungan NICA dan Pao An Tui.
Budaya dan Tradisi yang Tetap Lestari
Meski telah melalui berbagai rintangan sejarah, komunitas China Benteng tetap mempertahankan budaya dan tradisi leluhur mereka. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan adalah kesenian Cokek, tarian khas hasil perpaduan budaya Betawi dan China yang diiringi musik gambang kromong.
Selain itu, tradisi pernikahan mereka masih mempertahankan gaya Dinasti Manchu (Qing). Mereka mengenakan busana khas seperti Manchu robe dan Manchu hat, sebuah tradisi yang bahkan sudah jarang ditemukan di Tiongkok sendiri sejak runtuhnya Dinasti Qing pada tahun 1912.
Orang China Benteng juga dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap (walaupun tetap berkulit kuning) dibandingkan warga keturunan Tionghoa lainnya di Indonesia.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
