Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Desember 2024 | 14.53 WIB

Kendalikan Hujan untuk Antisipasi Banjir, Pemprov DKI Habiskan Rp 6 Miliar untuk Modifikasi Cuaca, Begini Faktanya

Ilustrasi hujan di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta. Muhammad Adimaja/Antara - Image

Ilustrasi hujan di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta. Muhammad Adimaja/Antara

JawaPos.com -  Pemprov DKI Jakarta menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) sebanyak tiga tahap sebagai antisipasi terjadinya banjir akibat hujan lebat yang di prediksi terjadi pada musim hujan kali ini. Lalu, berapa anggaran yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta selama melakukan modifikasi cuaca?

Sebagaimana diketahui, modifiksai cuaca tahap pertama dilaksanakan pada Sabtu (7/12) hingga Senin (9/12). Lalu, modifikasi cuaca tahap kedua pada Jumat (13/12) hingga Senin (16/12). Dan OMC tahap ketiga sejak Rabu (25/12) hingga akhir bulan ini (31/12).

Kasubkel Pengendalian dan Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jakarta M Thoufiq menjelaskan, OMC tahap I dan II dilakukan menggunakan anggaran BPBD DKI Jakarta.

Sedangkan untuk modifikasi cuaca Jakarta tahap ketiga dilakukan dengan menggunakan anggaran biaya tak terduga (BTT). Sebab, anggaran yang tersedia di BPBD tidak mencukupi untuk membiayai pelaskanaan operasi modifikasi cuaca selama tujuh hari. 

"Ada tambahan BTT. Kami mengajukan Rp 2,7 miliar, karena belum harga nego kontrak," ujar Thoufiq. 

Jika di total, beserta pajaknya, modifikasi cuaca Jakarta yang dilakukan tiga tahap ini menghabiskan anggaran hingg Rp 6 miliar.

"Plus pajak kurang lebih Rp 6 Miliar," katanya.

Diketahui, Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi banjir di Jakarta dengan melakukan modifikasi cuaca. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan akan kemungkinan terjadinya banjir parah di Jakarta seperti yang pernah terjadi pada awal tahun 2020 silam.

Dalam rapat bersama Komisi V DPR di Senayan, Rabu (4/12/2024), Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina bisa memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.

Dwikorita menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, seperti Sumatera dan Jawa, telah memasuki musim hujan, dengan puncaknya terjadi pada akhir Desember hingga Januari.

"Saat ini kita sedang memasuki musim hujan, dan puncak musim hujan di sebagian wilayah di Sumatera dan Jawa itu ada di bulan Desember akhir. Kemudian, di sebagian wilayah itu mengalami puncak musim hujan di bulan Januari," jelas Dwikorita.

Fenomena La Nina yang sedang berlangsung memperburuk situasi. Dwikorita menyebut curah hujan diprediksi meningkat hingga 20 persen dari normal. Hal ini berpotensi memicu hujan ekstrem, seperti yang terjadi pada Januari 2020.

Saat itu Jakarta dilanda banjir besar yang merendam 390 RW di 151 kelurahan, dengan ketinggian air mencapai 350 cm di beberapa titik.

"Kemudian saat landing ke Indonesia bagian barat yaitu Jawa Barat, Lampung, Banten, DKI, ini peristiwanya mirip, kalau skenario terburuk, doa kami tidak akan, tapi skenario terburuk itu meningkatkan curah hujan dengan intensitas yang ekstrem," ujarnya.

"Contoh yang sudah terjadi di tahun 2020 di Januari kondisi terparah adalah Jabodetabek banjir saat itu akibat kami mendeteksi seruak udara dingin tadi," sambungnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore