Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Oktober 2022 | 00.15 WIB

Anies Temui Keluarga Henk Ngantung, Bahas Polemik Halte Bundaran HI?

halte transjakarta bundaran HI - Image

halte transjakarta bundaran HI

JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menemui keluarga mantan Gubernur DKI Jakarta Henk Ngantung. Hal itu ia lakukan sekalian ketika mengunjungi revitalisasi Halte Bundaran HI yang sedang berpolemik karena dianggap menghalangi Objek Diduga Cagar Budaya (OCDB) Patung Selamat Datang.

Seperti yang diketahui, Patung Selamat sendiri menurut Sejarawan JJ Rizal merupakan peninggalan zaman Presiden Soekarno dan Henk Ngantung yang saat itu merupakan orang nomor satu di DKI. Namun begitu, Anies menyatakan bahwa silaturahminya dengan keluarga Henk Ngantung tak ada hubungannya dengan polemik tersebut.

"Silaturahmi aja, gak ada urusan (dengan polemik revitalisasi halte Transjakarta Bundaran HI)," katanya kepada wartawan, Jumat (7/10) malam.

Diketahui bahwa keluarga Henk Ngantung yang ditemui Anies ialah Putri dan Putra Henk Ngatung, yaitu Genie Ngantung dan Kamang Ngantung.

Sebelumnya, Sejarawan JJ Rizal meminta Gubernur DKI Jakarta dan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) untuk menghentikan proyek revitalisasi Halte Tosari-Bundaran HI. Menurutnya, revitalisasi halte tersebut membuat pandangan warga yang melintas di kawasan tersebut jadi terhalang ke arah Patung Selamat Datang.

"Mohon pak gubernur @aniesbaswedan setop pembangunan halte @PT_Transjakarta yang arogan di kawasan cagar budaya penanda sejarah perubahan kota kolonial jadi kota nasional warisan Sukarno," ucapnya dikutip dari cuitan Twitter @JJRizal, Kamis, (29/9).

Ia mengatakan, Patung Selamat Datang adalah warisan dari Presiden pertama RI Soekarno dengan Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965 Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang akrab dikenal Henk Ngantung.

Selain itu, menurutnya Patung Selamat Datang yang dihalangi pembangunan Halte Tosari-Bundaran HI itu juga merupakan simbol keramahan bangsa, semangat bersahabat melaksanakan ketertiban dunia berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

"Apalagi PT Transjakarta tak cukup puas hanya bangun halte gigantis di sekitar HI, tapi juga di Sarinah, satu lagi penanda sejarah untuk mengingatkan bahwa ibu kota nasional berbeda dari ibukota kolonial, simbol ekonomi kapitalisme yang rakus, melainkan ibu kota ekonomi kerakyatan," cuitnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore