Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Agustus 2022 | 03.10 WIB

Kisah Sopir Taksi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Photo - Image

Photo

Masih ingat dengan sulitnya hidup saat awal Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena merebaknya pandemi Covid-19? Saya bertemu Muhyiddin dan Nasrul, dua sopir taksi Blue Bird yang menginspirasi untuk tidak boleh menyerah dan terus bekerja keras.


Agas Putra Hartanto, Jakarta.


Pada Senin 18 Juli lalu, saya mendarat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah meliput rangkaian G20 di Bali. Rendahnya tingkat penularan Covid-19 membuat bandara kembali dipadati penumpang. Sangat kontras dibanding Juli 2021. Saat varian Delta merebak. Pun jika dibandingkan dengan Juli 2020, ketika awal PPKM diberlakukan.


Meski belum bisa dikatakan normal, denyut bisnis penerbangan mulai berdetak lagi. Okupansi pesawat mulai meningkat seiring dibukanya kembali jalur penerbangan domestik dan internasional. Aturan melakukan perjalanan menggunakan pesawat yang lebih longgar dibanding beberapa waktu lalu ikut memberi harapan pulihnya bisnis penerbangan.


Siang itu, para pengantar ramai duduk di bangku panjang selasar Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kata petugas di sana, saat akhir pekan lebih ramai lagi. Padat seperti masa sebelum pandemi Covid-19.


Tingginya okupansi pesawat ikut berimbas positif pada sektor angkutan lain. Seperti antrean angkutan umum bandara termasuk taksi. Saya mendapat antrean nomor 256 untuk taksi Blue Bird. Harus sabar memang. Tapi di sisi lain saya merasa lega. Sektor transportasi mulai pulih. Roda ekonomi perlahan mulai berputar lagi.


Sekitar 20 menit kemudian saya mendapat taksi dan bertemu dengan sopir bernama Muhyiddin. Beliau ramah, murah senyum, dan yang menyenangkan dia storry teller yang baik. Perjalanan saya menembus kemacetan menuju Kebayoran Lama jadi tidak membosankan. Apalagi, saat dia bercerita tentang pengalamannya ketika pagebluk Covid-19 terjadi di Indonesia.


Dia masih ingat betul ketika Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret 2020. Berbagai kebijakan bermunculan. Masyarakat was-was dengan kesehatannya yang lantas banyak memilih untuk di rumah saja sesuai anjuran pemerintah. Momen yang mulai membuat hari-harinya buruk. Penumpang taksi merosot drastis. Menjadi sopir taksi saat itu tidak menjanjikan.


Muhyiddin lantas mengajukan izin untuk pulang kampung ke Mojokerto, Jawa Timur. Dia di sana sejak Maret 2020 sampai Desember 2020. Di Mojokerto, dia memilih membantu istrinya mengelola kebun bunga di kampung. “Di Jakarta nggak menghasilkan, ya milih bantu istri, makan di rumah. Kebetulan, istri butuh tenaga,” ungkapnya.


Keluarga Muhyiddin kebetulan punya bisnis bunga untuk ziarah kubur. Dari kebunnya ada melati air, kamboja, dan mawar. Selama dia merantau di Jakarta, kebun bunga itu dikelola istrinya bersama orang lain. Hanya saja, menurut dia, kurang telaten. Sekadar panen saja. “Ya asyik. Saya pulang itu tanaman jadi bagus. Karena yang punya merawat langsung,” celetuknya.


Namun, pulang kampung tidak serta merta membuat ekonominya membaik. Sebab, kebijakan PPKM juga membuat ziarah kubur turun. Muhyiddin jadinya ke kebun untuk memetik bunga dan mengecek kondisi tanaman. Jika ada bunga yang busuk segera diambil.


Jual kembang untuk ziarah kubur sebenarnya cukup untuk membuat dapurnya tetap mengebul. Apalagi, dia memiliki pelanggan tetap. Terutama yang mau berziarah ke makam-makam tokoh agama di daerah Trowulan, Mojokerto. Di sana ada makam sejumlah wali dan pemuka agama Islam. Salah satunya, Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro.


Tidak hanya itu, bunga hasil kebun Muhyiddin juga dikirim ke Surabaya. Tepatnya di Ampel dan Kembang Jepun. Di sana, bunga-bunga tersebut dijual Rp 140 ribu per kg. Bapak tiga anak itu juga menjual ke pemasok seharga Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu per keranjang besar. “Istilah keranjang besar itu di tempat saya per kalo. Keranjang yang dari bambu itu,” terangnya.


Dalam seminggu, Muhyiddin dapat menjual rata-rata 8 kalo. Ketika musim penghujan, apes-apesnya 4 kalo seminggu. Sebab, ketika panas, bunga akan mekar sempurna. Jika musim penghujan, bunga akan kempes.


Pada 5 Januari 2021, pria 55 tahun itu kembali ke Jakarta. Walaupun situasi belum normal, dia yakini situasi akan membaik. Sang istri juga memahami keputusannya. Muhyiddin menyadari konsekuensinya. Berusaha legowo di bulan pertama, kedua, ketiga belum dapat uang yang cukup untuk dikirim ke istrinya. Situasi masih serba terbatas. Yang penting uang cukup untuk menghidupi diri sendiri dulu di Jakarta. “Baru mulai Maret bisa ngirim (uang),” ucapnya lega.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore