
Suasana penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (8/1/2022). KAI Commuter mencatat, jumlah penumpang KRL mencapai 8,3 juta selama libur Natal dan Tahun Baru yakni 17 Desember 2021 - 3 Januari 2022. Ini meningkat 34% dibanding periode yang sama
JawaPos.com - Pemandangan di stasiun KRL kini berbeda semenjak pemerintah melonggarkan kebijakan masa transisi pandemi menjadi endemik. Tidak ada lagi tanda batas jaga jarak di kursi dalam gerbong kereta dan kursi tunggu stasiun. Situasi dan kondisi tampak normal seperti sebelum kehadiran Covid-19 di Indonesia.
Berdasarkan pantauan JawaPos.com, para penumpang masih tetap mengenakan masker dan menjaga protokol kesehatan dengan baik. Hal itu terlihat dari beberapa penumpang yang sering menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya setiap beberapa saat.
Meskipun kondisi kembali normal, petugas kereta KRL tetap mengingatkan para penumpang untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19. Peringatan tersebut disampaikan melalui sistem alat pengeras suara di dalam gerbong kereta.
Lupita, salah satu penumpang KRL memandang, ada sisi positif dan negatif dari kebijakan ini. Sisi baiknya, kursi tempat duduk menjadi lebih banyak dan kapasitas penumpang di dalam gerbong membantu para pekerja yang mulai aktif bekerja di kantor.
“Sisi positifnya lebih banyak orang yang dapat tempat duduk lagi,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (10/3).
Sementara, sisi negatifnya, stasiun dan gerbong kereta yang mulai dipadati oleh para penumpang tanpa ada batasan jaga jarak membuatnya ada ketakutan tersendiri selama varian Omicron hadir di tengah-tengah masyarakat.
“Ramai dan udah umpel-umpelan lagi. Masih agak ngeri dan seram sih kalau nggak ada jarak gitu di tempat duduk,” tuturnya.
Lupita yang sehari-hari bekerja, berangkat dari Stasiun Parung Panjang ke Stasiun Kebayoran Lama menggunakan KRL. Ia pun mengaku cemas pada kondisi saat ini. Bahkan, Ia berharap jika kasus Covid-19 masih tinggi sebaiknya aturan jaga jarak tetap diterapkan.
“Harapannya kalau kasus Covid masih tinggi sih lebih baik duduknya dijarakin lagi, mungkin nanti kalau kasus Covid-19 udah mendingan atau nggak ada baru boleh duduk tanpa jarak,” ucapnya.
Pendapat berbeda dikatakan oleh Nisa yang sehari-hari bekerja di SCBD Jakarta. Ia mengaku senang terhadap aturan baru ini. Sebab, dirinya yang sering pulang di malam hari mengaku agak cemas jika kondisi gerbong kereta terlalu sepi.
“Aku senang sebenernya. Udah mulai normal lagi. Yang kerja di kantor banyak. Kereta juga sudah nggak ada jaga jarak artinya ramai lagi. Soalnya kalau aku pulang malam suka sepi. Aku pulang ke Citayam itu selama pandemi sepi banget,” tuturnya.
Meskipun kondisi sudah terlihat normal, namun pengawasan KRL tetap terjaga. Terlihat dari petugas yang berkeliling untuk menegur dan mengingatkan jika terjadi penumpukan penumpang di satu sudut. Sebab, kapasitas KRL belum sepenuhnya atau 100 persen, tapi hanya meningkat dari sebelumnya 45 persen menjadi 60 persen.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
