Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Maret 2022 | 23.11 WIB

KRL Kembali Ramai, Penumpang: Agak Ngeri Engga Ada Jarak

Suasana penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (8/1/2022). KAI Commuter mencatat, jumlah penumpang KRL mencapai 8,3 juta selama libur Natal dan Tahun Baru yakni 17 Desember 2021 - 3 Januari 2022. Ini meningkat 34% dibanding periode yang sama - Image

Suasana penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (8/1/2022). KAI Commuter mencatat, jumlah penumpang KRL mencapai 8,3 juta selama libur Natal dan Tahun Baru yakni 17 Desember 2021 - 3 Januari 2022. Ini meningkat 34% dibanding periode yang sama

JawaPos.com - Pemandangan di stasiun KRL kini berbeda semenjak pemerintah melonggarkan kebijakan masa transisi pandemi menjadi endemik. Tidak ada lagi tanda batas jaga jarak di kursi dalam gerbong kereta dan kursi tunggu stasiun. Situasi dan kondisi tampak normal seperti sebelum kehadiran Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan pantauan JawaPos.com, para penumpang masih tetap mengenakan masker dan menjaga protokol kesehatan dengan baik. Hal itu terlihat dari beberapa penumpang yang sering menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya setiap beberapa saat.

Meskipun kondisi kembali normal, petugas kereta KRL tetap mengingatkan para penumpang untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19. Peringatan tersebut disampaikan melalui sistem alat pengeras suara di dalam gerbong kereta.

Lupita, salah satu penumpang KRL memandang, ada sisi positif dan negatif dari kebijakan ini. Sisi baiknya, kursi tempat duduk menjadi lebih banyak dan kapasitas penumpang di dalam gerbong membantu para pekerja yang mulai aktif bekerja di kantor.

“Sisi positifnya lebih banyak orang yang dapat tempat duduk lagi,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (10/3).

Sementara, sisi negatifnya, stasiun dan gerbong kereta yang mulai dipadati oleh para penumpang tanpa ada batasan jaga jarak membuatnya ada ketakutan tersendiri selama varian Omicron hadir di tengah-tengah masyarakat.

“Ramai dan udah umpel-umpelan lagi. Masih agak ngeri dan seram sih kalau nggak ada jarak gitu di tempat duduk,” tuturnya.

Lupita yang sehari-hari bekerja, berangkat dari Stasiun Parung Panjang ke Stasiun Kebayoran Lama menggunakan KRL. Ia pun mengaku cemas pada kondisi saat ini. Bahkan, Ia berharap jika kasus Covid-19 masih tinggi sebaiknya aturan jaga jarak tetap diterapkan.

“Harapannya kalau kasus Covid masih tinggi sih lebih baik duduknya dijarakin lagi, mungkin nanti kalau kasus Covid-19 udah mendingan atau nggak ada baru boleh duduk tanpa jarak,” ucapnya.

Pendapat berbeda dikatakan oleh Nisa yang sehari-hari bekerja di SCBD Jakarta. Ia mengaku senang terhadap aturan baru ini. Sebab, dirinya yang sering pulang di malam hari mengaku agak cemas jika kondisi gerbong kereta terlalu sepi.

“Aku senang sebenernya. Udah mulai normal lagi. Yang kerja di kantor banyak. Kereta juga sudah nggak ada jaga jarak artinya ramai lagi. Soalnya kalau aku pulang malam suka sepi. Aku pulang ke Citayam itu selama pandemi sepi banget,” tuturnya.

Meskipun kondisi sudah terlihat normal, namun pengawasan KRL tetap terjaga. Terlihat dari petugas yang berkeliling untuk menegur dan mengingatkan jika terjadi penumpukan penumpang di satu sudut. Sebab, kapasitas KRL belum sepenuhnya atau 100 persen, tapi hanya meningkat dari sebelumnya 45 persen menjadi 60 persen.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore