Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Februari 2026 | 04.46 WIB

Mengapa 2 Metode Penentuan Awal Puasa Ramadhan Sering Berbeda? Ini Penjelasan Lengkapnya

Ilustrasi ramadhan. (Freepik) - Image

Ilustrasi ramadhan. (Freepik)

JawaPos.com - Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat di Indonesia selalu dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa setiap tahunnya. Ada yang mulai puasa lebih dulu, ada juga yang memulai keesokan harinya. Namun ada kalanya waktu puasa Ramadhan berbarengan.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan, mengapa 2 metode penentuan awal puasa Ramadhan kerap berbeda?

Dua metode yang dimaksud adalah metode rukyat dan Hisab. Metode rukyat mengharuskan untuk melihat hilal langsung. Sementara metode kedua yaitu hisab, tidak mengharuskan penglihatan hilal secara langsung dengan menggunakan pendekatan perhitungan astronomi.

Keduanya sama-sama memiliki dasar kuat, baik dari sisi dalil agama maupun ilmu pengetahuan.

Selama perbedaan ini disikapi dengan bijak dan dewasa, perbedaan justru menjadi kekuatan dan kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam, bukan justru menimbulkan perpecahan.

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait dua metode tersebut, simak penjelasan berikut ini.

Dasar Penentuan Awal Puasa Ramadhan

Penetapan awal Ramadhan bertujuan untuk menentukan kapan umat Islam mulai wajib melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, yaitu pada tanggal 1 Ramadhan. Dasar utamanya adalah hadis Nabi Muhammad:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis inilah lahir dua pendekatan utama yaitu rukyat (tekstual/literal) dan hisab (ilmiah/astronomis). Perbedaan cara memahami dan menerapkan hadis inilah yang kemudian memicu perbedaan hasil penetapan.

Metode Rukyat: Melihat Hilal Secara Langsung

Rukyat adalah metode penentuan awal Ramadhan dengan cara mengamati hilal secara langsung pada sore hari di tanggal 29 Sya’ban setelah matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka malam itu ditetapkan sebagai awal Ramadhan.

Di Indonesia, metode rukyat dijadikan acuan resmi oleh pemerintah melalui Kementerian Agama RI. Hasil pengamatan dari berbagai titik kemudian dibahas dalam sidang isbat bersama para ulama dan pakar astronomi.

Kelebihan metode rukyat adalah paling sesuai dengan bunyi tekstual hadis Nabi, dipraktikkan sejak zaman Rasulullah,dan menguatkan nilai kebersamaan umat.

Adapun kekurangan metode rukyat antara lain; sangat bergantung pada kondisi cuaca seperti mendung, hujan, atau polusi, hilal sangat tipis akan sulit terlihat, dan bisa berbeda hasil pengamatan antar daerah.

Metode Hisab: Perhitungan Ilmu Astronomi

Hisab merupakan metode penentuan awal Ramadhan dengan perhitungan posisi bulan dan matahari secara matematis dan astronomis, tanpa menunggu terlihatnya hilal secara langsung.

Di Indonesia, metode ini biasanya digunakan oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, yang menggunakan kriteria wujudul hilal. Artinya, jika secara perhitungan hilal sudah berada di atas ufuk (meski belum terlihat), maka sudah dianggap masuk bulan Ramadhan.

Editor: Abdul Rahman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore