Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 19.06 WIB

Islam Menjunjung Tinggi Kerja Keras: Bukan Sekadar Mencari Nafkah, Tapi Ibadah

Ilustrasi orang bekerja. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang bekerja. (Freepik)

Imam Al-Ghazali, ulama besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, berasal dari keluarga penenun karpet. Kata "Al-Ghazali" bahkan diambil dari profesi keluarganya, yaitu pembuat kain wol (ghazzal).

Meskipun berasal dari keluarga sederhana, Imam Al-Ghazali menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam.

Di Tanah Air, kita juga memiliki teladan seperti Kiai Fadhol dari Senori, Tuban, seorang ulama besar yang menghidupi dirinya dari pekerjaan sebagai tukang servis radio.

Meskipun ahli dalam ilmu agama dan memiliki banyak santri, ia tetap bekerja secara mandiri untuk mencukupi kebutuhannya.

Islam dan Keharusan untuk Bekerja

Islam sangat menekankan pentingnya bekerja, seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10:

"Apabila telah ditunaikan salat (Jumat), maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

Ayat ini mengajarkan bahwa setelah menjalankan ibadah, umat Islam dianjurkan untuk mencari rezeki dengan cara yang halal dan penuh semangat.

Bekerja dalam Islam tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan, melainkan dari usaha yang dilakukan. Islam mendorong setiap orang untuk aktif, mandiri, dan produktif dalam memenuhi kebutuhannya. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore