Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 00.47 WIB

Belum Ada Pada Masa Rasulullah Muhammad SAW, Sejak Kapan Maulid Nabi Mulai Dirayakan?

Ilustrasi Salah Satu Tradisi Maulid Nabi. (Dok.Taman Budaya DIY) - Image

Ilustrasi Salah Satu Tradisi Maulid Nabi. (Dok.Taman Budaya DIY)

JawaPos.com - Maulid Nabi menjadi perayaan tahunan yang selalu dirayakan oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad.

Berkat kehadiran Nabi Muhammad, umat manusia mendapatkan kebaikan dan anugerah terbesar berupa cahaya iman.

Di Indonesia, sejumlah daerah merayakan Maulid Nabi dengan penuh antusias sebagai ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah.

Bukan hanya pada 12 Rabiul Awwal pada hari kelahiran Nabi, tradisi Maulid Nabi bahkan dirayakan selama 1 bulan penuh oleh masyarakat secara bergantian.

Beragam cara dilakukan masyarakat di Indonesia untuk merayakan Maulid Nabi. Dari mulai pembacaan barzanji yang isinya riwayat hidup Nabi, ceramah keagamaan, perlombaan, dan beragam kegiatan lain.

Maulid Nabi juga kerap dipadukan dengan kebudayaan di masing-masing daerah di Indonesia. Di Madura misalnya, ada tradisi Muludhen, di Minang ada tradisi Bungo Lado, di Kudus ada tradisi Kirab Ampyang, Maudu Lompoa atau Maulid Akbar di Sulawesi Selatan dan sejumlah daerah lain

Pertanyaannya kemudian, sejak kapan Maulid Nabi mulai dirayakan? Karena pada saat Rasulullah masih hidup belum ada tradisi Maulid Nabi.

Berdasarkan catatan buku Sejarah Maulid Nabi karya Ahmad Sauri, dinyatakan bahwa bangsa Arab mulai merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad sejak tahun kedua hijriah.

Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa.

Khaizuran atau Jurasyiyah binti 'Atha (170 H/786 M), istri dari Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas yang juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid termasuk orang yang berkontribusi membudayakan Maulid Nabi di Madinah.

Khaizuran menyuruh penduduk Madinah untuk mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.

Setelah di Madinah, Khaizuran lantas pergi ke Makkah menganjurkan penduduk Makkah untuk merayakan Maulid Nabi di rumah-rumah mereka.

Pengaruh Khaizuran yang besar berhasil menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk meneladani sosok, kepribadian, hingga kepemimpinan Nabi.

Prof Quraish Shihab mengatakan, Maulid Nabi dirayakan secara meriah pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa kekhalifahan Al-Hakim Billah.

Maulid Nabi dirayakan untuk tujuan memperkenalkan Nabi Muhammad kepada setiap generasi. Karena dapat mencintai Nabi, dimulai dari mengenalinya terlebih dahulu.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore