Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03.39 WIB

Perang Teluk Picu Bencana Ekologi, Tumpahan Minyak Cemari Iran dan Oman

Citra satelit Pulau Hengam di selatan Qeshm, Iran, 10 Agustus 2026, ditangkap oleh satelit Sentinel-2 Badan Antariksa Eropa (ESA). (ESA Sentinel-TankerTrackers). - Image

Citra satelit Pulau Hengam di selatan Qeshm, Iran, 10 Agustus 2026, ditangkap oleh satelit Sentinel-2 Badan Antariksa Eropa (ESA). (ESA Sentinel-TankerTrackers).

JawaPos.com - Perang di kawasan Teluk mulai memicu dampak lingkungan serius setelah tumpahan minyak mencemari pesisir Iran dan Oman.

Di Iran, residu minyak mencapai Pulau Qeshm dan kawasan hutan bakau Hara, sementara di Oman tumpahan dari kapal tanker pengangkut minyak Rusia telah meluas hingga ribuan kilometer persegi dan mencapai garis pantai.

Dua insiden tersebut menjadi salah satu dampak lingkungan paling nyata dari meningkatnya konflik di kawasan Teluk.

Selain mengancam ekosistem laut, pencemaran ini juga membuka persoalan baru mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan bagaimana pemulihannya dilakukan.

Di Iran, lapisan minyak berwarna gelap mulai terlihat di sejumlah pesisir Pulau Qeshm sejak awal pekan ini. Residu tersebut dilaporkan menyebar dari Pantai Soza hingga kawasan Shib Deraz dan hutan bakau Hara di dekat Desa Naqasheh.

Melansir Euronews, pejabat lingkungan Iran mengatakan sebagian besar tumpahan telah dibersihkan hingga Rabu (12/8) malam. Namun, pemantauan terhadap kawasan terdampak masih terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran kembali.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bukti awal mengarah kepada sebuah kapal kargo asing sebagai sumber pencemaran. Teheran juga menuntut kompensasi dari pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan persoalan lingkungan harus menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan Selat Hormuz.

"Memulihkan ekosistem laut Selat Hormuz, Teluk Persia dan Laut Oman, dan mencegah polusi lebih lanjut, harus menjadi bagian dari pengaturan manajemen masa depan untuk Selat Hormuz," kata Baghaei.

Menurutnya, semua pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas pelayaran komersial di jalur tersebut memiliki kewajiban untuk ikut menangani kerusakan lingkungan.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore