Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 00.56 WIB

Berkat Habitat Orbit Bergravitasi Buatan, Manusia Akan Segera Mampu Tinggal Lebih Lama di Luar Angkasa

Stasiun luar angkasa dengan gravitasi buatan memungkinkan manusia hidup jangka panjang di luar angkasa tanpa dampak berat dari kondisi tanpa gravitasi (The Telegraph) - Image

Stasiun luar angkasa dengan gravitasi buatan memungkinkan manusia hidup jangka panjang di luar angkasa tanpa dampak berat dari kondisi tanpa gravitasi (The Telegraph)

JawaPos.com - Upaya memperpanjang durasi tinggal manusia di luar angkasa memasuki fase baru seiring berkembangnya rancangan habitat orbit dengan gravitasi buatan yang digarap berbagai perusahaan antariksa swasta. Teknologi ini dipandang sebagai elemen kunci untuk mendukung misi jangka panjang ke Mars dan wilayah lebih jauh di tata surya.

Saat ini, astronaut di stasiun seperti International Space Station (ISS) hidup dalam kondisi mikrogravitasi, yakni keadaan jatuh bebas saat wahana mengorbit Bumi. Kondisi ini membuat tubuh manusia melayang, namun sekaligus memicu dampak fisiologis serius jika berlangsung lama.

Paparan tanpa gravitasi diketahui menyebabkan penurunan massa tulang, pelemahan otot, gangguan penglihatan, hingga perubahan pada sistem imun. Dalam misi yang lebih jauh seperti perjalanan ke Bulan atau Mars, tantangan ini menjadi semakin kompleks karena durasi perjalanan yang lebih panjang dan minimnya gravitasi alami.

Melansir The Telegraph, Senin (15/6/2026), Tom Shelley, wakil presiden rekrutmen kru swasta di Vast, menegaskan pentingnya pendekatan baru dalam desain stasiun luar angkasa. Dia menyebut, "Stasiun luar angkasa dengan gravitasi buatan memungkinkan kita menjelajah lebih jauh dan lebih dalam ke luar angkasa."

Shelley menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama misi antariksa adalah efek mikrogravitasi terhadap tubuh manusia. "Salah satu masalah manusia di luar angkasa adalah mereka mengalami kehilangan massa tulang dan otot karena efek samping hidup dalam mikrogravitasi, tetapi jika Anda dapat menciptakan stasiun dengan gravitasi buatan, Anda pada dasarnya hidup dalam lingkungan gravitasi seperti di Bumi," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa secara teori, keberadaan gravitasi buatan akan memungkinkan manusia bertahan lebih lama di luar angkasa sekaligus memperluas jangkauan eksplorasi. "Kami pada dasarnya adalah bisnis yang berfokus pada menjaga manusia tetap hidup," katanya.

Konsep ini berakar dari gagasan ilmuwan roket Rusia Konstantin Tsiolkovsky yang kemudian dikembangkan oleh pionir antariksa Jerman-Amerika Wernher von Braun. Prinsip dasarnya, ketika sebuah struktur di orbit diputar, muncul gaya ke luar yang membuat tubuh astronaut terdorong ke arah lantai, sehingga menciptakan sensasi gravitasi layaknya di permukaan planet bumi.

Dalam perkembangan modern, perusahaan Rusia Energia juga mengusulkan rancangan stasiun yang berputar lima kali per menit untuk menghasilkan sekitar 50 persen gravitasi Bumi. Hal ini menunjukkan bahwa konsep yang dahulu dianggap fiksi ilmiah kini mulai bergerak menuju tahap rekayasa nyata.

Sementara itu, perusahaan antariksa Vast menyiapkan langkah bertahap melalui modul hunian Haven-1 yang akan diluncurkan tahun depan, disusul Haven-2 yang ditargetkan beroperasi pada 2030. Setelah itu, perusahaan berencana membangun stasiun gravitasi buatan penuh dengan kapasitas hingga 40 awak dan rotasi sekitar 3,5 putaran per menit.

Shelley menekankan bahwa pembangunan tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung. "Sebelum bisa memutar stasiun untuk menciptakan gravitasi buatan, Anda harus belajar membangun dan mengoperasikannya terlebih dahulu, dan itulah tujuan Haven-1 dan Haven-2," katanya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore