
Ilustrasi gempa melanda Afghanistan pada Senin (3/11) waktu setempat menewaskan puluhan korban jiwa. (Al-Jazeera)
JawaPos.com - Gempa berkekuatan 6,3 skala Richter kembali mengguncang Afghanistan utara pada Senin (3/11) dini hari waktu setempat. Gempa tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai lebih dari 320 lainnya di sekitar Mazar-i-Sharif.
Bencana ini hanya berselang beberapa bulan setelah serangkaian gempa sebelumnya yang menewaskan lebih dari 2.200 orang di berbagai wilayah negara tersebut.
Namun di balik rentetan tragedi ini, para ahli menegaskan Afghanistan memang berada di salah satu zona paling aktif secara seismik di dunia.
Bertumbukannya Dua Lempeng Raksasa
Secara geologis, Afghanistan terletak di zona tumbukan antara Lempeng India dan Eurasia. Lempeng India terus bergerak ke utara dan menekan Lempeng Eurasia dengan kekuatan besar, membentuk Pegunungan Hindu Kush dan Himalaya.
Tekanan bawah tanah yang terus meningkat ini menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar.
“Ketika tekanan itu melampaui kekuatan batuan di sepanjang sesar aktif, maka terjadilah pelepasan energi besar yang kita rasakan sebagai gempa,” jelas National Center for Seismology (NCS) dalam laporan terbarunya.
Getaran utama sering kali diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks) yang menurun intensitasnya seiring waktu.
Data menunjukkan bahwa sejak 1990, Afghanistan telah mengalami lebih dari 350 gempa dengan magnitudo di atas 5,0, dengan rata-rata 560 korban jiwa setiap tahun dan kerugian ekonomi mencapai lebih dari USD 80 juta.
Wilayah timur dan timur laut, termasuk Kabul, Nangarhar, dan Herat, menjadi area paling rawan, di mana gempa besar sering memicu tanah longsor yang menghancurkan desa-desa di lereng gunung maupun kawasan padat penduduk.
Beberapa bencana paling mematikan terjadi pada 1998 yang menewaskan ribuan orang, disusul gempa tahun 2022 yang merenggut sekitar 1.000 jiwa, serta serangkaian guncangan pada 2023 yang meratakan seluruh komunitas.
Infrastruktur Rapuh, Risiko Tinggi
Selain faktor geologis, kerapuhan infrastruktur menjadi alasan utama tingginya angka korban. Banyak rumah di Afghanistan dibangun dari batu dan tanah liat tanpa perkuatan struktural, membuatnya mudah runtuh saat terjadi guncangan kuat.
Para ahli berulang kali menyerukan pentingnya pembangunan bangunan tahan gempa dan perkuatan kembali (retrofitting) terhadap gedung lama, terutama di kawasan berisiko tinggi.
Sayangnya, kondisi ekonomi dan politik yang tidak stabil membuat upaya mitigasi gempa di Afghanistan berjalan sangat lambat. Minimnya bantuan luar negeri sejak Taliban berkuasa pada 2021 juga memperburuk kesiapsiagaan menghadapi bencana alam semacam ini.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
