Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 September 2025, 21.19 WIB

Mahatma Gandhi: Perjalanan Hidup dari Pengacara Korban Diskriminasi di Afrika Selatan hingga Memimpin India Merdeka

Potret Mahatma Gandhi, sosok yang memimpin perjuangan tanpa kekerasan melawan kolonialisme di India (Dok. History) - Image

Potret Mahatma Gandhi, sosok yang memimpin perjuangan tanpa kekerasan melawan kolonialisme di India (Dok. History)

JawaPos.com - Mahatma Gandhi dikenal dunia sebagai sosok pemimpin yang menjadikan perlawanan tanpa kekerasan sebagai senjata utama dalam memperjuangkan kemerdekaan. Lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, India, Gandhi tumbuh menjadi seorang pengacara, politisi, aktivis sosial, sekaligus penulis yang kelak memimpin gerakan kemerdekaan India melawan penjajahan Inggris. 

Melansir dari Britannica, ia kemudian dijuluki sebagai "Bapak Bangsa" dan dipandang sebagai Mahatma atau "Jiwa Agung" oleh jutaan rakyat India. Popularitasnya menjangkau hingga ke mancanegara, bahkan semakin meningkat setelah wafatnya pada 30 Januari 1948 di Delhi.

Dilansir dari National Geographic, Gandhi lahir dengan nama Mohandas Karamchand Gandhi di Gujarat, India, dari keluarga elite. Masa mudanya sempat diwarnai pemberontakan remaja, hingga akhirnya ia menempuh studi hukum di London. 

Pada usia 24 tahun, tepatnya 1893, Gandhi pindah ke Afrika Selatan, untuk berpraktik hukum. Namun, diskriminasi rasial yang begitu nyata di sana mengguncang dirinya. Gandhi pernah dipaksa turun dari kereta, dipukuli karena menggunakan jalan umum, hingga dipisahkan dari penumpang kulit putih di kereta kuda.

Tahun 1894 menjadi titik balik penting ketika pemerintah mencabut hak pilih seluruh orang India. Gandhi kemudian mengorganisir perlawanan, menentang undang-undang anti-India di pengadilan, serta memimpin aksi protes besar. Dalam proses ini, ia mengembangkan filosofi satyagraha, sebuah prinsip perjuangan non-kooperasi dan perlawanan tanpa kekerasan yang berlandaskan kebenaran.

Menurut World Economic Forum, diskriminasi di Afrika Selatan kala itu begitu berat. Orang India bahkan dikenakan pajak khusus hanya karena status imigrannya. Gandhi mendirikan Indian Congress sebagai wadah perjuangan. Salah satu aksinya yang paling awal adalah menentang pajak £3 untuk warga keturunan India. 

Dengan mengedepankan satyagraha, ia memimpin mogok kerja dan pawai lebih dari 2.000 orang. Aksi tersebut membuatnya dipenjara sembilan bulan, namun sekaligus menghapus pajak diskriminatif itu. Sejak saat itu, namanya mulai diperhitungkan dunia.

Setelah kembali ke India pada 1915, Gandhi mendirikan sebuah ashram (semacam padepokan spiritual) yang terbuka bagi seluruh kasta. Ia memilih hidup sederhana, hanya mengenakan kain dhoti putih dan selendang, berpuasa, serta berdoa. Namun, perlawanan terhadap penjajah tetap berlanjut.

Pada 1919, Inggris menerapkan undang-undang yang memungkinkan penangkapan siapa saja yang dicurigai melakukan penghasutan. Gandhi pun mengobarkan pembangkangan gerakan sipil tanpa kekerasan. Tragedi terjadi di Amritsar ketika tentara Inggris melepaskan tembakan ke kerumunan sekitar 20.000 orang. Sekitar 400 orang tewas dan lebih dari 1.000 terluka. Namun, peristiwa ini justru memperkuat tekad Gandhi yaitu kemerdekaan penuh bagi India.

Gerakan Gandhi meluas dengan seruan boikot terhadap barang-barang dan institusi Inggris. Ia meminta pegawai sipil berhenti bekerja untuk penjajah, mahasiswa keluar dari sekolah pemerintah, tentara meninggalkan dinas, serta rakyat menolak membayar pajak maupun membeli produk Inggris. Pada 1922, Gandhi ditangkap atas tuduhan penghasutan dan divonis enam tahun penjara, meski hanya dijalani dua tahun.

Penindasan Inggris juga tampak dalam Salt Act, undang-undang yang melarang rakyat India memproduksi atau menjual garam. Undang-undang ini menindas rakyat kecil. Pada 1930, Gandhi melancarkan perlawanan lewat Salt March sejauh 390 km menuju Laut Arab, lalu memungut garam sebagai simbol penentangan terhadap monopoli Inggris. 

Aksinya membuat sekitar 60.000 orang dipenjara, termasuk dirinya. Namun, gerakan ini menuai perhatian internasional. Majalah Time bahkan menobatkannya sebagai "Man of the Year" pada tahun itu.

Pada 1931, Gandhi diundang ke London untuk mewakili Kongres Nasional India. Ia bertemu Raja George V dan mengunjungi pekerja pabrik di Lancashire, membangun simpati luas, meski perundingan dengan Inggris belum membuahkan hasil. Saat Perang Dunia II, Gandhi meluncurkan kampanye Quit India yang menuntut Inggris angkat kaki. Ia kembali ditangkap bersama para pemimpin Kongres Nasional dan istrinya.

Perubahan politik di Inggris setelah perang membawa suasana baru. Pada 15 Agustus 1947, India meraih kemerdekaan. Setahun kemudian, 30 Januari 1948, Gandhi ditembak mati oleh seorang ekstremis Hindu.

Hingga kini, Gandhi tetap dikenang sebagai simbol perjuangan tanpa kekerasan melawan kolonialisme. Dedikasinya menginspirasi gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Namanya telah menjadi salah satu yang paling dikenal sepanjang sejarah, membuktikan bahwa keteguhan moral dapat mengubah arah bangsa.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore