
Badai Super Ragasa melanda sejumlah negara Asia. (BBC)
JawaPos.com - Topan super Ragasa, salah satu badai terkuat dalam beberapa tahun terakhir, melanda sejumlah negara Asia dan menimbulkan kerusakan besar. Dengan kecepatan angin yang sempat mencapai lebih dari 260 kilometer per jam, badai ini menyebabkan banjir, korban jiwa, dan evakuasi massal di berbagai wilayah.
Di Filipina, setidaknya 15 orang meninggal dunia setelah sebuah danau meluap dan memicu banjir bandang di wilayah timur. Jalanan berubah menjadi aliran lumpur, kendaraan bertumpuk, dan bangunan runtuh akibat terjangan arus deras.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian korban dari rumah ke rumah meski air sudah mulai surut.
Taiwan juga menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Hujan deras dan angin kencang membuat aktivitas lumpuh, sementara otoritas setempat melaporkan kerusakan infrastruktur yang cukup luas.
Sementara itu, beberapa wilayah pedalaman sulit dijangkau karena jalan tertutup longsor dan puing. Ragasa kemudian bergerak ke arah Hong Kong dan Makau pada Rabu (24/9).
Merangkum berbagai sumber, gelombang laut setinggi beberapa meter menerjang pesisir, menenggelamkan jalan raya dan merendam pusat kota. Sejumlah hotel, pertokoan, dan gedung perkantoran ikut terendam, sementara ratusan penerbangan dibatalkan dan sekolah-sekolah ditutup.
Pemerintah Tiongkok turut mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi hampir dua juta orang dari Provinsi Guangdong. Evakuasi massal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak badai yang berpotensi memicu banjir besar dan longsor.
Ribuan warga kini tinggal di pusat-pusat penampungan darurat. Menurut laporan Badan Meteorologi setempat, Ragasa terbentuk di Samudra Pasifik Barat pekan lalu dan berkembang pesat menjadi super typhoon kategori 5 pada Senin (22/9) kemarin.
Meski kini melemah menjadi kategori 3, badai tersebut masih berbahaya dan berpotensi merusak jaringan listrik, merobohkan pepohonan, hingga menghancurkan bangunan.
Para pakar menilai, kejadian ini menjadi pengingat bahwa kawasan Asia semakin rentan terhadap bencana cuaca ekstrem. Fenomena perubahan iklim dituding memperburuk intensitas badai tropis, sehingga negara-negara di kawasan ini perlu meningkatkan kesiapan mitigasi bencana.
Hingga kini, tim penyelamat di beberapa negara masih berjibaku mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan darurat. Sementara itu, otoritas kesehatan memperingatkan adanya risiko penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi kulit yang bisa memperburuk kondisi warga terdampak.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
