
Para delegasi negara anggota G20. (bloomberg.com)
JawaPos.com - Pertemuan negara-negara G20 tahun ini kembali menyoroti tantangan perdagangan internasional yang semakin kompleks. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, para pemimpin dunia menekankan pentingnya kerja sama multilateral untuk mencegah fragmentasi ekonomi dan menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Dilansir dari unctad.org, laporan terbaru dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menyebutkan bahwa “ketidakpastian perdagangan yang terus berlanjut dapat menjadi rem bagi pertumbuhan global, dengan dampak negatif yang parah terutama bagi negara-negara yang paling rentan”.
Menurut data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), perdagangan barang di negara-negara G20 menunjukkan hasil yang beragam pada kuartal kedua 2025. Ekspor meningkat sebesar 2,6 persen, sementara impor relatif stagnan.
Pertumbuhan signifikan justru terjadi pada sektor jasa, dengan ekspor dan impor masing-masing naik 4,7 persen dan 2,9 persen. Kondisi ini mencerminkan pergeseran dinamika perdagangan global yang semakin bergantung pada sektor jasa dan teknologi.
Namun, di balik angka-angka tersebut, muncul kekhawatiran akan meningkatnya proteksionisme. Beberapa negara anggota G20 mulai menerapkan kebijakan industri dan tarif baru yang berpotensi mengganggu arus perdagangan.
Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala, mengingatkan bahwa “ketidakpastian yang terus berlangsung dapat menjadi penghambat pertumbuhan global, dengan konsekuensi negatif yang serius bagi dunia, terutama bagi ekonomi yang paling rentan”.
UNCTAD juga mencatat bahwa tren seperti friendshoring dan nearshoring, adalah strategi memindahkan rantai pasok ke negara-negara sekutu atau wilayah terdekat yang semakin berkembang. Hal ini menciptakan peluang baru, namun juga menambah kompleksitas dalam jaringan perdagangan global.
Beberapa negara seperti India dan Vietnam memperkuat hubungan dagang dengan mitra tertentu, sementara Uni Eropa dan Australia mulai mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Di tengah dinamika tersebut, G20 diharapkan mampu merumuskan kebijakan perdagangan yang seimbang dan inklusif. Para analis menilai bahwa keterbukaan dan kolaborasi antarnegara menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
“Setiap ekonomi terbuka yang bergantung pada perdagangan akan terdampak, dan di atas itu semua, akan muncul efek psikologis negatif terhadap kepercayaan pasar,” ujar salah satu analis dalam laporan World Economic Forum.
Dengan tantangan yang terus berkembang, G20 memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa perdagangan internasional tetap menjadi motor pertumbuhan yang adil dan berkelanjutan.
Dunia menanti langkah konkret dari para pemimpin global untuk menjawab ketidakpastian ini dengan kebijakan yang progresif dan kolaboratif. (*)

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
