
Perempuan dari suku Chin yang mentato wajahnya.(Flickr/RURO photography)
JawaPos.com - Tradisi tato wajah perempuan Chin di Myanmar menjadi salah satu warisan budaya visual yang kini berada di ambang kepunahan. Praktik ini telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun, khususnya di wilayah pegunungan Chin State, Myanmar bagian barat.
Namun, sejak pemerintah Myanmar melarang tato wajah pada tahun 1960-an, jumlah perempuan bertato wajah semakin menurun drastis dan kini hanya tersisa segelintir lansia yang masih memegang tradisi tersebut.
Tato wajah ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol identitas suku dan kedewasaan. Setiap pola tato mewakili kelompok etnis tertentu di Chin State, seperti Muun, Yin Du, U-Pu, dan Laytu.
Proses penatoan dilakukan saat perempuan berusia sekitar 12 tahun, menggunakan duri rotan dan campuran tinta dari jelaga, air, serta getah tanaman merambat.
“Tinta dibuat dari ginjal kerbau, jelaga, dan tanaman lokal,” ujar Aung Nay Kay, seorang pemandu wisata lokal yang kerap membawa turis ke desa-desa terpencil di Chin State.
Salah satu alasan yang sering dikaitkan dengan munculnya tradisi ini adalah untuk melindungi perempuan Chin dari penculikan oleh tentara kerajaan Burma di masa lalu. Konon, tato wajah membuat mereka terlihat “tidak menarik” bagi para penjajah.
Namun, menurut laporan dari Mekong Stories, narasi tersebut lebih bersifat mitos dan belum terbukti secara historis. Peneliti menyebut bahwa alasan sebenarnya jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan identitas suku serta ritual kedewasaan.
Kini, sebagian besar perempuan bertato wajah berusia di atas 70 tahun. Di desa Kanpalet dan Mindat, hanya segelintir yang masih hidup dan dapat ditemui.
Jay Tindall, seorang fotografer dokumenter, mencatat bahwa sebagian besar perempuan muda di Chin State tidak lagi melanjutkan tradisi ini karena pengaruh modernisasi dan perubahan nilai sosial.
“Tak ada lagi teman saya yang bertato wajah. Saya satu-satunya yang tersisa,” ujar Pa Late, perempuan U-Pu berusia 86 tahun yang ditemui di Kanpalet.
Meski tradisi ini perlahan menghilang, sejumlah fotografer, peneliti, dan aktivis budaya berupaya mendokumentasikan wajah-wajah terakhir dari perempuan Chin yang bertato. Upaya ini menjadi penting untuk menjaga jejak visual dan narasi budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Chin selama berabad-abad.
Dengan semakin terbukanya akses ke wilayah terpencil dan meningkatnya minat terhadap budaya lokal, harapan untuk melestarikan warisan ini masih ada.
Namun, pelestarian tidak hanya soal dokumentasi, melainkan juga soal penghargaan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tato wajah perempuan Chin bukan sekadar seni tubuh, melainkan cermin sejarah, identitas, dan ketahanan budaya di tengah arus globalisasi. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
