Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. (Dok. JawaPos.com/AFP)
JawaPos.com - Fenomena Third Culture Kids (TCK) semakin mendapat sorotan di tengah dunia yang kian terhubung. Anak-anak yang tumbuh di luar negara asal orang tuanya kini membentuk identitas budaya yang unik. Yaitu, campuran antara budaya asal, budaya tempat tinggal, dan pengalaman pribadi yang melintasi batas geografis. Salah satu tokoh dunia yang merepresentasikan kompleksitas identitas TCK adalah Barack Obama.
Menurut Lewis & Clark College, Barack Obama dikategorikan sebagai TCK karena masa kecilnya yang berpindah-pindah lintas budaya. Dia lahir di Honolulu, Hawaii, dari ayah asal Kenya dan ibu dari Kansas.
Setelah orang tua bercerai, sang ibu menikah dengan seorang mahasiswa asal Indonesia dan membawa Obama kecil pindah ke Jakarta. Di sana, mantan presiden Amerika Serikat (AS) itu bersekolah dan hidup selama beberapa tahun sebelum kembali ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya.
Pengalaman hidup di Indonesia, Kenya, dan Amerika Serikat membentuk cara pandang Obama yang inklusif dan global. Dalam Dreams from My Father, Obama menulis, “I was raised as an American, but also as someone who had lived in the third world. I had a sense of how the world looked from the other side.” Kutipan ini menunjukkan bagaimana pengalaman sebagai TCK memberinya perspektif yang lebih luas tentang dunia dan identitas.
Situs New World Encyclopedia juga mencatat Obama memiliki akar budaya yang sangat beragam, dari Kenya, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Prancis, Jerman, hingga Belanda. Ia tumbuh dengan nilai-nilai yang tidak hanya berasal dari satu budaya, melainkan hasil dari interaksi lintas budaya yang kompleks.
Fenomena TCK seperti yang dialami Obama menunjukkan bahwa identitas global bukan sekadar konsep abstrak, melainkan kenyataan yang dialami jutaan anak diaspora.
Mereka memiliki kemampuan adaptasi tinggi, wawasan multikultural, dan sering kali menjadi jembatan antar komunitas. Namun, mereka juga menghadapi tantangan dalam membentuk rasa memiliki dan identitas yang stabil.
Dalam konteks Indonesia, semakin banyak anak yang tumbuh sebagai TCK karena orang tua bekerja di luar negeri, menjadi diplomat, atau menjalani pendidikan internasional. Fenomena ini membuka ruang bagi diskusi tentang bagaimana sistem pendidikan, media, dan komunitas lokal bisa lebih inklusif terhadap identitas global yang cair dan kompleks.
Barack Obama adalah contoh nyata bahwa TCK bukan hanya “anak asing” di negeri orang, tapi juga bisa menjadi pemimpin dunia yang membawa nilai-nilai lintas budaya ke panggung global. Identitas global bukan ancaman bagi nasionalisme, melainkan peluang untuk membangun dunia yang lebih saling memahami.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
