Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 22.12 WIB

Mantan Menlu Iran Usulkan Pakta Nuklir Regional Lewat Forum MENARA, Tawarkan Solusi Jangka Panjang Atas Ketegangan di Timur Tengah

Javad Zarif mengusulkan kerangka kerja bagi Iran dan negara-negara tetangga untuk mengembangkan energi nuklir secara damai (Dok. The Guardian) - Image

Javad Zarif mengusulkan kerangka kerja bagi Iran dan negara-negara tetangga untuk mengembangkan energi nuklir secara damai (Dok. The Guardian)

JawaPos.com – Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, mengajukan inisiatif baru untuk menyelesaikan kebuntuan jangka panjang terkait program nuklir Iran. Ia menawarkan pembentukan forum kerja sama nuklir sipil regional yang bertujuan menciptakan Timur Tengah bebas dari senjata nuklir, sekaligus mempromosikan penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai.

Dilansir dari The Guardian, Jumat (1/8/2025), proposal itu ditulis bersama mantan Duta Besar Iran untuk Inggris, Mohsen Baharvand. Keduanya mengusulkan forum bernama Middle East Network for Atomic Research and Advancement (MENARA), yang akan beroperasi di bawah dukungan PBB dan terbuka bagi negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara yang menolak pengembangan serta penyebaran senjata nuklir. Forum ini juga akan menerapkan mekanisme verifikasi bersama antarnegara peserta.

Zarif menekankan bahwa kawasan Timur Tengah merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang belum memiliki perjanjian bebas senjata nuklir. Ia menyatakan, "Selama ini, isu nuklir terlalu sering dipersepsikan hanya sebagai ancaman. Namun, ilmu nuklir juga bisa menjadi solusi terhadap perubahan iklim, krisis air, ketahanan pangan, dan diversifikasi energi."

Sebagai bagian dari forum ini, negara anggota MENARA akan diberi akses untuk mengembangkan teknologi nuklir damai, mulai dari pembangkit listrik, pengobatan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

Menurut Zarif, "Seiring menipisnya cadangan minyak dan gas, energi nuklir akan menjadi elemen vital bagi pertumbuhan dan keberlanjutan kawasan. MENARA dapat mewujudkan masa depan yang aman dan berbagi."

Usulan ini diluncurkan setelah AS dan Israel melakukan kampanye pemboman selama 12 hari pada Juni lalu terhadap fasilitas nuklir Iran. Sejak serangan itu, Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat, meski tetap berdialog dengan tiga negara Eropa (E3)—Inggris, Prancis, dan Jerman—yang merupakan bagian dari kesepakatan nuklir 2015, yang akan kedaluwarsa pada Oktober mendatang.

Ketiga negara Eropa tersebut telah mengancam akan memulai proses pemulihan sanksi PBB bulan depan jika Iran tidak mengizinkan kembalinya inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dalam konteks inilah, proposal MENARA muncul sebagai alternatif kerangka jangka panjang untuk meredakan ketegangan.

Meski begitu, kritik pun bermunculan. Sejumlah pihak menilai Zarif hanya berusaha mengalihkan perhatian dari dugaan program senjata nuklir rahasia Iran, atau menjadikan isu ini sebagai alat untuk menekan Israel agar terbuka mengenai program nuklirnya yang tidak diumumkan secara resmi. Ada pula yang menyebut proposal ini sebagai manuver menjelang perundingan lanjutan dengan E3.

Kendati penuh tantangan dan skeptisisme, inisiatif MENARA tetap memberikan harapan baru untuk mengatur dan mengawasi program nuklir sipil di kawasan secara kolektif dan transparan. Ini juga bisa menjadi kerangka yang lebih dapat diterima secara internasional bagi Iran dalam mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium secara damai, yang selama ini menjadi garis merah dalam perundingan dengan Amerika Serikat.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore