
Momen hangat pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden RRT Xi Jinping (Dok. Associated Press/AP)
JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan untuk memangkas dan menunda kebijakan tarif resiprokal sementara. Upaya itu sekaligus mengakhiri tensi panas perang tarif yang telah merugikan kedua ekonomi terbesar dunia itu dan memicu kekhawatiran resesi global.
Dilansir dari AFP, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan hasil kesepakatan tersebut usai melakukan pembicaraan dengan pejabat Tiongkok di Jenewa. Dia menyebut bahwa kedua negara sepakat untuk memberlakukan jeda 90 hari terhadap kebijakan tarif yang saling diberlakukan. Serta, akan menurunkan tarif lebih dari 115 persen.
’’Kedua negara telah mewakili kepentingan nasionalnya dengan sangat baik. Kami sama-sama memiliki kepentingan dalam perdagangan yang seimbang, dan AS akan terus bergerak menuju arah itu,’’ ujar Bessent pada konferensi pers di Jenewa, Senin (12/5) waktu setempat.
Bessent menyampaikan pernyataan tersebut bersama Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer. Kesepakatan itu terjadi setelah serangkaian pembicaraan di Swiss yang disebut oleh kedua pihak sebagai kemajuan signifikan dalam mempersempit perbedaan kebijakan.
’’Kesepakatan dari kedua delegasi akhir pekan ini adalah bahwa tidak ada pihak yang menginginkan pemisahan (decoupling). Apa yang telah terjadi dengan tarif yang sangat tinggi ini pada dasarnya menyerupai embargo, dan tidak ada yang menginginkan itu. Kita menginginkan perdagangan,’’ tutur Bessent.
Dia menambahkan bahwa kedua negara juga telah mengidentifikasi lima hingga enam industri strategis yang rentan secara rantai pasokan, termasuk sektor farmasi dan baja.
Bessent menegaskan bahwa AS akan berupaya membangun kemandirian pasokan dari negara-negara sekutu. ’’Ke depan, AS akan melanjutkan strategi ‘penyeimbangan strategis’ di sektor-sektor tersebut,’’ jelas mantan anak buah George Soros itu.
Pertemuan di Jenewa itu merupakan interaksi langsung pertama antara pejabat ekonomi senior AS dan Tiongkok sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden dan meluncurkan kebijakan tarif besar-besaran secara global, khususnya terhadap Tiongkok.
Dilansir dari Reuters, kabar itu langsung berdampak positif pada pasar keuangan. Nilai tukar dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia, sementara pasar saham global juga menunjukkan penguatan, seiring meredanya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi akibat eskalasi perang dagang bulan lalu oleh Presiden AS Donald Trump.
Sejak dilantik pada Januari lalu, Trump telah menaikkan tarif impor barang-barang dari Tiongkok menjadi 145 persen. Itu merupakan kelanjutan dari tarif yang telah diberlakukan selama masa jabatan pertamanya, serta kebijakan tarif yang diterapkan selama pemerintahan Presiden Joe Biden.
Sebagai balasan, Tiongkok memberlakukan pembatasan ekspor terhadap beberapa elemen tanah jarang yang sangat dibutuhkan oleh industri manufaktur senjata dan elektronik di AS, serta menaikkan tarif atas barang-barang asal AS hingga 125 persen.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
