
Foto Paus Fransiskus. (Depositphoto)
JawaPos.com - Paus Fransiskus meninggal karena stroke. Bukan pneumonia seperti penyakit yang dideritanya selama ini. Pemilihan Paus berikutnya akan dilaksanakan segera.
Dilansir dari Vatikan News, Direktur Direktoran kesehatan dan Kebersihan Negara Kota Vatikan Andrea Arcangeli telah mengeluarkan sertifikat resmi kematian Paus Fransiskus. Kantor Pers Tahta Suci merilis laporan berdasar sertifikat tersebut yang menyatakan bahwa kematian Paus Fransiskus karena stroke, diikuti oleh koma dan kolaps kardiosirkulasi ireversibel.
Paus memiliki riwayat gagal napas akut. Ini karena pneumonia bilateral multimikroba, bronkiektasis multipel, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe II. Kematian Paus Fransiskus dikonfirmasi melalui tanatografi elektrokardiografi.
Sementara itu The Guardian menuliskan, Italia menetapkan lima hari berkabung pasca kematian Paus. Keputusan ini dibuat pada pertemuan para menteri kemarin pagi (22/4). Masa berkabung akan berlangsung hingga Sabtu nanti atau tepat di hari pemakaman Paus Fransiskus
Pemakaman Paus Fransiskus akan diaakan di Basilika Santo Petrus. Misa akan mulai pada Sabtu pukul 10.00 waktu setempat. Rencananya akan dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re.
Hari ini (23/4), peti jenazah Paus Fransiskus akan dibawa ke Basilika Santo Petrus pada pukul 09.00 waktu setempat. Masyarakat diperkenankan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Untuk Paus berikutnya akan dipilih oleh Dewan Kardinal yang akan berangkat ke Vatikan dalam beberapa hari kedepan. Ini adalah tokoh paling senior gereja Katolik yang ditunjuk oleh Paus. Dewan Kardinal akan menghadiri konklaf, yakni menunjukkan proses pemilihan paus. Prosesi ini berlangsun tertutup.
Ada lebih dari 250 kardinal dari lebih dari 90 negara, tetapi hanya sekitar 135 yang merupakan kardinal elektor. Sekitar 110 kardinal elektor telah dipilih oleh Fransiskus dalam 10 tahun terakhir dan sebagian besar mencerminkan visinya tentang gereja yang lebih inklusif.
Para kardinal berkumpul biasanya 15 sampai 20 hari setelah kematian Paus. Kapel Sistina menjadi saksi musyawarah pemilihan paus anyar.
Para kardinal bersumpah untuk menjaga kerahasiaan sepenuhnya, dan tidak diizinkan melakukan kontak dengan dunia luar selama proses pemilihan berlangsung. Ponsel mereka disingkirkan, dan tidak ada surat kabar, televisi, surat atau pesan yang diizinkan. Kapel juga dibersihkan dari alat penyadap sebelum dan selama konklaf.
Sidang paripurna pemilihan paus dimulai dengan perayaan misa, yang kemudian dilanjutkan dengan musyawarah dan pemungutan suara. Pemungutan suara dilakukan setiap hari, pagi dan sore, hingga seorang kandidat memperoleh suara mayoritas dua pertiga. Ada waktu istirahat satu hari untuk berdoa dan merenung setelah setiap tujuh pemungutan suara.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
