
Idul Fitri menjadi momen paling membahagiakan untuk Hikmahanto. Ia biasanya mengisi Idul Fitri dengan Salat Ied bersama, berdoa bersama, hingga makan dan berfoto bersama
JawaPos.com - Hasil pemilihan presiden (pilpres) AS akan berdampak pada hubungan diplomatik dengan Indonesia. Namun, siapa pun yang terpilih, pemerintah dua negara pasti akan beradaptasi.
Pakar hubungan internasional Hikmahanto Juwana menilai, pilpres AS akan berpengaruh ke dunia, termasuk Indonesia. Baik soal kebijakan luar negeri, ekonomi, perdagangan, maupun lainnya.
Dia mengatakan, arah kebijakan Kamala Harris maupun Donald Trump sebenarnya sudah bisa dibaca. Misalnya, jika Trump menang, perang akan bereskalasi, baik di Gaza maupun Ukraina. Sebab, Trump telah menyebutkan, jika terpilih sebagai presiden, dia akan memerintahkan militer AS menyerang Iran.
"Nah, jadi itu juga harus dicermati. Kebijakan luar negeri kita nantinya seperti apa? Apa yang kita bisa lakukan?” ungkapnya.
Karena itu, akan jadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), untuk bisa beradaptasi dengan pemimpin baru AS apabila nanti dipimpin Trump.
’’Kita tidak bisa, misalnya merasa, wah kita enggak setuju sama Trump, terus kita enggak berhubungan, enggak bisa. Jadi, bagi kita adalah beradaptasi,” papar rektor Universitas Jenderal A. Yani tersebut.
Kemenlu harus sudah memiliki strategi khusus terkait kemungkinan-kemungkinan tersebut sejak sekarang sehingga bisa menempatkan posisi Indonesia dengan baik.
Beda lagi jika Harris yang akhirnya melenggang ke Gedung Putih. Sangat mungkin hubungan dua negara bisa lebih mulus. Sebab, saat Harris menjabat wakil presiden AS saat ini, hubungan Indonesia-AS telah berjalan dengan baik.
Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia itu memberikan catatan bahwa waktu peralihan kepemimpinan setelah pencoblosan harus diwaspadai. Sebab, ada potensi chaos di AS apabila Trump kalah.
Kondisi itu tidak hanya akan berpengaruh pada situasi dalam negeri. Ada hal besar yang juga perlu diwaspadai. Yakni, misi balas dendam Iran ke Israel atas serangan yang dilakukan pasukan Zionis pada 26 Oktober lalu.
Iran sendiri sudah bertekad untuk memberikan balasan yang lebih keras kepada Israel. "Iran menanti waktu yang tepat. Nah, waktu yang tepat itu besar kemungkinan ketika Amerika chaos, katakanlah begitu ya,” katanya.
Artinya, saat itu tidak ada komando untuk Israel ketika diserang Iran. Dengan begitu, hal tersebut bisa jadi keuntungan besar bagi Iran. (mia/c7/oni)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
