Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Desember 2023 | 16.30 WIB

Antimikroba Tidak Lagi Efektif, Infeksi Bakteri Menyebar di Ukraina di Tengah Konflik dengan Rusia

Prajurit Ukraina yang menderita gegar otak atau luka ringan sedang menjalani pemulihan di rumah sakit lapangan dekat garis depan di wilayah Donetsk. (sumber: Genya Savilov/AFP melalui Getty Images) - Image

Prajurit Ukraina yang menderita gegar otak atau luka ringan sedang menjalani pemulihan di rumah sakit lapangan dekat garis depan di wilayah Donetsk. (sumber: Genya Savilov/AFP melalui Getty Images)

JawaPos.com - Menurut data terbaru dari pemerintah, bakteri berbahaya yang resisten terhadap antimikroba menyebar di kalangan pasien di Ukraina selama konflik dengan Rusia.

Sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, tingkat resistensi antimikroba (AMR) yang tinggi, bersama dengan peningkatan cedera traumatis dan kerentanan sistem layanan kesehatan, telah menyebabkan peningkatan deteksi infeksi yang tahan terhadap beberapa obat di Ukraina dan negara-negara tetangganya, seperti yang dilaporkan dalam sebuah studi terbaru yang dirilis Kamis (7/12) oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Antimikroba mencakup berbagai jenis obat, seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit, yang digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit menular.

Kejadian resistensi antimikroba (AMR) terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit kehilangan respons terhadap pengobatan, yang membuat infeksi sulit atau bahkan tidak dapat diatasi.

AMR dianggap sebagai salah satu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, demikian menurut penilaian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dilaporkan dari abcnews, Sabtu (09/12), bakteri yang resisten terhadap antimikroba menyebabkan jumlah kematian yang lebih tinggi secara global dibandingkan dengan HIV atau malaria.

Dalam laporan yang dirilis pada hari Kamis (7/12), Pusat Kesehatan Masyarakat Ukraina (UPHC) bersama mitra regionalnya melakukan pemantauan infeksi di tiga rumah sakit regional di wilayah Ternopi dan Khmelnytskyi di Ukraina barat, serta wilayah Vinnytsia di Ukraina barat-tengah. Informasi yang terkumpul kemudian dianalisis oleh CDC.

Antara November dan Desember 2022, dari total 353 pasien yang dilibatkan dalam survei tersebut, 14% atau 50 pasien di bangsal yang diamati mengalami infeksi yang terkait dengan layanan kesehatan.

Dalam kelompok ini, tingkat resistensi antimikroba ditemukan cukup tinggi, sesuai dengan laporan tersebut.

Dari mereka yang mengalami resistensi antimikroba, sekitar 60% mengalami infeksi oleh organisme yang tidak responsif terhadap karbapenem, sebuah jenis antibiotik.

Data menunjukkan bahwa pada pasien dengan Klebsiella pneumoniae, bakteri umum yang sering ditemukan di usus dan berpotensi berbahaya jika menyebar, semuanya menunjukkan ketahanan terhadap karbapenem dan sefalosporin generasi ketiga, suatu kelas antibiotik yang berbeda.

Dibandingkan dengan survei yang dilakukan di seluruh Uni Eropa pada periode 2016-2017, hanya 5,5% dari pasien yang mengalami infeksi terkait layanan kesehatan.

Dari infeksi yang disebabkan oleh keluarga bakteri seperti Klebsiella, hanya 6,2% yang menunjukkan resistensi terhadap karbapenem, sesuai dengan temuan dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut juga mengungkapkan adanya kesenjangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi, serta kapasitas laboratorium, yang dapat meningkatkan risiko keterlambatan diagnosis dan menyebabkan penyebaran organisme ini.

Penulis laporan menyatakan bahwa diperlukan peningkatan kapasitas untuk mencegah, mendeteksi, dan menanggapi resistensi antimikroba demi menyelamatkan nyawa di Ukraina dan membatasi penyebaran global.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore